Incinews.net — Pendidikan tak selalu berjalan melalui ruang kelas formal. Di tengah masyarakat, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) hadir menjadi ruang kedua bagi mereka yang pernah terputus dari pendidikan formal.
Hal itu pula yang dijalankan PKBM Ihsan, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Sejak berdiri pada 2007 hingga 2026, lembaga tersebut telah meluluskan lebih dari 200 warga belajar melalui program Paket C.
Pemilik Yayasan Rapuanggi Ihsan School, Hairunisah, S.Sos, mengatakan keberadaan PKBM sejak awal diarahkan untuk menjangkau masyarakat yang belum memperoleh akses pendidikan secara memadai.
“Peran PKBM lebih berorientasi kepada menjangkau yang tidak terjangkau, melayani yang tidak terlayani. Karena moto kami, menjangkau yang tidak terjangkau, melayani yang tidak terlayani,” ungkap Hairunisah kepada Incinews.net.»
Menurut dia, perjalanan panjang PKBM Ihsan tidak semata diukur dari jumlah lulusan. Lebih dari itu, keberhasilan warga belajar ketika mampu melanjutkan kehidupan dan memperoleh kesempatan kerja menjadi bagian penting dari tujuan pendidikan kesetaraan.
Salah satu kisah yang disebut Hairunisah adalah adanya lulusan PKBM yang kini berhasil menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
“Tamatan PKBM kini sudah ada yang jadi PPPK,” ujarnya.»
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan kesetaraan tidak berhenti pada selembar ijazah. Bagi sebagian warga belajar, Paket C dapat menjadi jalan untuk membuka kembali kesempatan yang sebelumnya tertutup, termasuk untuk melanjutkan karier dan memasuki dunia kerja.
Selain pendidikan kesetaraan, PKBM Ihsan juga menjalankan sejumlah program pemberdayaan masyarakat, salah satunya Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW). Program tersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan dan kecakapan kewirausahaan kepada masyarakat.
Hairunisah mengatakan berbagai program yang dijalankan tetap mengacu pada proses pembelajaran, standar serta kompetensi yang berlaku secara nasional.
Dari perjalanan sejak 2007 hingga 2026, PKBM Ihsan menunjukkan bahwa pendidikan masyarakat bukan sekadar alternatif bagi mereka yang tertinggal dari pendidikan formal. Ia juga dapat menjadi jembatan untuk membuka kembali kesempatan—bagi mereka yang pernah terputus sekolah, tetapi masih memiliki keinginan untuk belajar, bekerja dan menata masa depan. (Pel-Red)

