Incinews.net
Senin, 21 September 2026, 15.56 WIB
Last Updated 2026-09-23T07:56:17Z
Badai NTBHeadineHukum dan HAMKomisariat Nurkholis MajidNarkoba

HMI Nurcholish Madjid Soroti Krisis Generasi Muda Bima, Badai NTB Hadir sebagai Narasumber

 


INCINews.net — Persoalan generasi muda di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dinilai tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial, perkembangan teknologi, kondisi keluarga, pendidikan, hingga persoalan ekonomi.


Isu tersebut menjadi perhatian HMI Komisariat Nurcholish Madjid Tamsis Kampus II melalui Dialog Publik bertema “Menakar Krisis Sosial Generasi Muda Bima: Antara Disrupsi Digital, Kekerasan, dan Penyalahgunaan Narkoba”.


Dialog digelar di GSG Paruga Toi, Desa Kombo, Kecamatan Wawo, Senin (21/9/2026).


Dalam forum tersebut, Badai NTB hadir sebagai salah satu narasumber untuk membahas persoalan sosial yang dihadapi generasi muda, bersama unsur pemerintah dan pihak terkait lainnya.


Kehadiran Badai NTB menambah perspektif dalam diskusi yang secara khusus diarahkan untuk membaca persoalan generasi muda Bima dari sisi sosial, perkembangan teknologi, kekerasan, hingga penyalahgunaan narkoba.


Forum tersebut tidak hanya membahas fenomena kekerasan dan penyalahgunaan narkoba sebagai persoalan perilaku individu. HMI mendorong persoalan tersebut dibaca lebih luas dengan melihat berbagai faktor sosial yang memungkinkan muncul dan berkembangnya persoalan generasi muda.


Disrupsi digital, misalnya, telah mengubah cara generasi muda berkomunikasi, memperoleh informasi, membangun identitas, hingga membentuk kelompok sosial.


Perubahan itu, apabila tidak diimbangi literasi digital, kematangan berpikir, pendidikan karakter, serta penguatan lingkungan sosial, dapat membawa konsekuensi terhadap kehidupan generasi muda.


Karena itu, fenomena kekerasan, konflik antargenerasi muda, perilaku agresif, hingga penyalahgunaan narkoba dinilai tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan moral maupun represif.


HMI mendorong adanya pembacaan yang lebih kritis terhadap akar persoalan tersebut.


“Masyarakat harus dibaca secara kritis, sementara kritik harus berangkat dari keberanian untuk memahami realitas secara objektif,” demikian gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.


HMI juga menilai generasi muda tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek pembinaan. Mereka merupakan bagian penting dari struktur sosial sekaligus memiliki potensi intelektual, kreativitas, dan energi sosial untuk menentukan arah masa depan daerah.


Camat Wawo Apresiasi Dialog HMI


Dalam sambutannya, Camat Wawo, Syarifudin Bahsyar, S.Sos., menyampaikan apresiasi terhadap HMI Komisariat Nurcholish Madjid atas penyelenggaraan dialog publik tersebut.


Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Wawo itu menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mendiskusikan persoalan yang berkembang di lingkungan sosial, khususnya yang berkaitan dengan generasi muda.


Sementara itu, Ketua HMI Komisariat Nurcholish Madjid, Harianto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kader HMI sebagai kader umat dan kader bangsa.

 

“Kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai kader umat dan bangsa seperti yang tertuang jelas dalam mission HMI. HMI harus hadir di tengah-tengah masyarakat.”


Menurut Harianto, keberadaan HMI tidak semata-mata diarahkan pada aktivitas internal organisasi. Kader HMI juga dituntut membangun tradisi intelektual sekaligus mengambil bagian dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.


Dalam tradisi HMI, persoalan masyarakat bukan sekadar bahan diskusi, tetapi juga menjadi bagian dari medan pengabdian.


Karena itu, pembacaan terhadap persoalan generasi muda tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang salah.


Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa persoalan tersebut tumbuh, kondisi sosial apa yang memungkinkan persoalan itu berkembang, dan intervensi apa yang dapat dilakukan secara bersama-sama.


Pendekatan tersebut dinilai penting agar penanganan persoalan generasi muda tidak berhenti pada tindakan parsial atau represif.


Penguatan keluarga, pendidikan, literasi digital, ruang kreativitas, pemberdayaan ekonomi, serta lingkungan sosial yang sehat menjadi bagian dari upaya yang perlu dibangun secara berkelanjutan.


Di titik tersebut, HMI menempatkan kultur akademik sebagai instrumen untuk membaca realitas sosial secara kritis, objektif, dan dialogis.


Bagi HMI Komisariat Nurcholish Madjid Tamsis Kampus II, membicarakan masa depan generasi muda berarti membicarakan masa depan Bima.


Sebab, kualitas masa depan daerah tidak hanya ditentukan pembangunan fisik dan kebijakan pemerintah, tetapi juga kualitas manusia yang akan melanjutkan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.


Dialog publik tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar tradisi intelektual mahasiswa tetap terhubung dengan realitas sosial.


Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi insan yang mengetahui, tetapi juga dituntut mampu membaca persoalan, mengkritisinya, dan mengambil tanggung jawab atas realitas di sekitarnya.


Dengan semangat keumatan dan kebangsaan, HMI Komisariat Nurcholish Madjid menyatakan akan terus mendorong ruang-ruang intelektual yang memungkinkan masyarakat mendiskusikan persoalannya sendiri.


Sebab, perubahan sosial tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari keberanian untuk membaca realitas dan mengambil bagian dalam upaya memperbaikinya. (Pel-Red)