Oleh: Uki Ali Syariati
Founder Siber Mbojo Army (SIMBORA)
Sejarah peradaban manusia ternyata menyimpan satu pola yang konsisten. Pergantian "tuan" dunia selalu terjadi ketika sumber daya paling penting di suatu era bergeser.
Pertanyaannya sederhana: Siapa yang menguasai sumber daya paling penting di zamannya? Jawabannya, dan peta kekuasaan dunia, selalu berubah.
Seperti diketahui peradaban awal, 3000 SM hingga 500 SM, bertumpu pada tanah. Mesir, Mesopotamia, hingga Majapahit lahir dari sungai dan lumpur. Di masa ini, konflik terjadi karena batas sawah. Yang menguasai tanah subur, menguasai pangan dan rakyat.
Memasuki 500 SM hingga 1700 M, kekuasaan berpindah ke pedang dan layar. Kerajaan Romawi dibangun oleh legiun, bukan petani. Bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Belanda, Spanyol, dan Portugis menjadi kaya bukan karena ladang, tetapi karena mampu menguasai jalur laut dan memonopoli rempah. "Yang punya kapal, punya emas. Yang punya emas, punya dunia," begitu polanya.
Revolusi Industri pada 1700-an memindahkan poros kekuatan ke mesin. Negara kecil bisa menjajah dunia. Puncaknya di abad ke-20, minyak menjadi raja. OPEC, Perang Teluk, hingga dominasi dolar minyak menunjukkan betapa krusialnya hidrokarbon bagi geopolitik.
Namun 1990-an membawa guncangan baru. Informasi dan data naik tahta. Google menguasai cara manusia mencari. Meta menguasai cara bersosial. Amazon menguasai cara berbelanja. Data disebut "minyak baru" karena mampu memprediksi dan menjual masa depan.
Kini kita berada di Era Kecerdasan, 2020 hingga sekarang. Persaingan bukan lagi soal siapa punya data terbanyak, tetapi siapa bisa membuat data itu "berpikir". AI menulis, menggambar, mengkode, dan menganalisa. Nilai perusahaan AI saat ini bahkan melampaui perusahaan minyak dua dekade lalu.
Tapi AI punya kelemahan fatal: ia lapar. Lapar listrik, lapar chip, dan lapar pusat data. Satu kali proses training model besar dikabarkan setara dengan konsumsi listrik satu kota kecil selama sebulan.
Para analis memprediksi 2030 akan menjadi awal "Era Energi dan Komputasi". Jika benar, maka perang selanjutnya bukan perang software, melainkan perang infrastruktur.
"Siapa yang punya energi murah, chip paling canggih, dan data center sebesar kota. Mereka itulah yang akan jadi negara adidaya berikutnya. Bukan karena punya rudal. Tapi karena punya colokan.
Pola ini jelas. Kekuatan manusia bergerak dari yang fisik ke abstrak, dari tanah, ke mesin, ke data, ke kecerdasan, dan kini ke energi. Setiap perpindahan era selalu menyisakan mereka yang ketinggalan, karena masih bertarung di permainan lama.
Sejarah tidak pernah menunggu. Ia hanya memilih siapa yang paling siap. 2030 sudah di depan mata. Siapkah kita?

