Gambar: Ilustrasi EAI
INCINews.net — Persoalan Jenk Fitri dan keluarga Hj. Mahdalena, anggota DPR RI, memperlihatkan bagaimana miskomunikasi dapat membuat upaya penyelesaian konflik dimaknai berbeda.
Keluarga Hj. Mahdalena mengaku telah tiga kali menempuh mediasi. Di sisi lain, Jenk Fitri menunjukkan dokumentasi video saat hadir bersama keluarga sebagai bentuk iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan.
Dalam perspektif sosiolog Herbert Blumer melalui teori interaksionisme simbolik, yang dikutip Incinews.net (9/9/2026), bahwa tindakan seseorang memperoleh makna melalui proses interaksi dan penafsiran. Karena itu, kehadiran, permintaan maaf, atau mediasi dapat dianggap sebagai iktikad baik oleh satu pihak, tetapi belum tentu dimaknai demikian oleh pihak lainnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan bukan sekadar siapa yang telah berupaya, melainkan apakah kedua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang bentuk penyelesaian.
Ketika persoalan kemudian masuk ke ruang publik dan media sosial, perbedaan persepsi berpotensi semakin menguat. Masing-masing pihak cenderung mempertahankan narasi berdasarkan pengalaman dan bukti yang dimiliki.
Dari sudut pandang sosial, islah membutuhkan lebih dari sekadar pertemuan. Diperlukan kesamaan pemahaman, komunikasi dua arah, dan kesediaan kedua pihak untuk menerima makna yang diberikan pihak lainnya. (Pel-Red)
Keluarga Hj. Mahdalena mengaku telah tiga kali menempuh mediasi. Di sisi lain, Jenk Fitri menunjukkan dokumentasi video saat hadir bersama keluarga sebagai bentuk iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan.
Dalam perspektif sosiolog Herbert Blumer melalui teori interaksionisme simbolik, yang dikutip Incinews.net (9/9/2026), bahwa tindakan seseorang memperoleh makna melalui proses interaksi dan penafsiran. Karena itu, kehadiran, permintaan maaf, atau mediasi dapat dianggap sebagai iktikad baik oleh satu pihak, tetapi belum tentu dimaknai demikian oleh pihak lainnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan bukan sekadar siapa yang telah berupaya, melainkan apakah kedua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang bentuk penyelesaian.
Ketika persoalan kemudian masuk ke ruang publik dan media sosial, perbedaan persepsi berpotensi semakin menguat. Masing-masing pihak cenderung mempertahankan narasi berdasarkan pengalaman dan bukti yang dimiliki.
Dari sudut pandang sosial, islah membutuhkan lebih dari sekadar pertemuan. Diperlukan kesamaan pemahaman, komunikasi dua arah, dan kesediaan kedua pihak untuk menerima makna yang diberikan pihak lainnya. (Pel-Red)

