INCINews.net — Kondisi kekeringan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga September 2026 masih meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima mencatat 34.858 jiwa dari 10.593 kepala keluarga (KK) terdampak dan membutuhkan dukungan air bersih.
Kekeringan tidak hanya terjadi di satu kawasan. Berdasarkan data BPBD, pelayanan distribusi air bersih telah menjangkau 16 kecamatan dan 52 desa di Kabupaten Bima.
Kondisi tersebut tergambar dari distribusi air bersih yang terus dilakukan BPBD ke sejumlah wilayah. Dalam rekapitulasi penanganan kekeringan 2026, BPBD menetapkan target distribusi sebanyak 64 rit dengan volume 320.000 liter.
Namun, pelaksanaan di lapangan telah mencapai 84 kali distribusi ke desa-desa yang membutuhkan.
Kepala BPBD Kabupaten Bima Abdul Muis melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Nurul Huda mengatakan, distribusi dilakukan berdasarkan pendataan dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Distribusi air bersih ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan. Kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di lapangan dan menyalurkan air sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Nurul Huda.
Sejumlah wilayah yang tercatat mendapatkan pelayanan meliputi Kecamatan Woha, Wawo, Palibelo, Lambitu, Donggo, Soromandi, Bolo, Madapangga, Monta, Sape, Belo, Lambu, Langgudu, Wera, Tambora hingga Sanggar.
Beberapa desa bahkan mendapatkan distribusi secara berulang karena kebutuhan air bersih masih berlangsung.
Di Kecamatan Woha, distribusi tercatat dilakukan di Desa Waduwani dan Talabiu. Sementara di Kecamatan Palibelo, pelayanan menyasar Desa Belo, Dore, Teke, Nata dan Tonggondoa.
Distribusi juga dilakukan di wilayah Soromandi, Bolo, Tambora dan Sanggar. Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekurangan air telah menjadi kondisi yang terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Bima.
Nurul Huda mengatakan BPBD masih memantau perkembangan kondisi di lapangan bersama pemerintah desa dan kecamatan.
“Yang menjadi perhatian kami adalah masyarakat tetap mendapatkan akses air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, ketika ada wilayah yang membutuhkan pelayanan, kami melakukan koordinasi dan penanganan sesuai kondisi serta kemampuan distribusi yang ada,” ujarnya.
Masyarakat juga dihimbau menggunakan air secara hemat, terutama untuk kebutuhan pokok selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Hingga September 2026, distribusi air bersih masih menjadi bagian penting penanganan kekeringan di Kabupaten Bima, seiring masih adanya puluhan ribu warga yang tercatat membutuhkan dukungan air bersih. (Pel-Red)

