Incinews.net
Minggu, 30 Agustus 2026, 17.11 WIB
Last Updated 2026-09-02T09:11:45Z
Aji MataramHeadlineKota BimaMedia

AJI Mataram Biro Bima Dorong Jurnalis Adaptif Hadapi Era AI



INCINews.net — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia jurnalistik. Jurnalis dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan independensi, etika, akurasi, dan prinsip dasar jurnalistik.


Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram Biro Bima bertema “Optimalisasi AI dalam Kerja Jurnalistik” di Tuk-Tuk Coffee, Kota Bima, Minggu (30/8/2026).


Diskusi tersebut menghadirkan jurnalis Susi Gustiana sebagai pemateri dan diikuti sejumlah jurnalis, penggiat media sosial, mahasiswa, serta pegiat pers mahasiswa di Bima.


Susi mengatakan, AI kini semakin familiar di kalangan jurnalis dan menjadi bagian dari transformasi teknologi yang tidak dapat dihindari.


“Mau tidak mau kita harus beradaptasi. Kalau tidak beradaptasi, kita akan tertinggal,” ujar Susi.


Menurut dia, AI dapat membantu berbagai pekerjaan jurnalistik, mulai dari riset, mengolah informasi, menyusun bahan berita hingga produksi konten media sosial. Namun, teknologi tersebut tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan jurnalistik.


Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah halusinasi AI, yakni ketika sistem menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi tidak benar atau tidak memiliki dasar fakta yang kuat.


Karena itu, setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap harus diperiksa dan diverifikasi sebelum digunakan dalam produk jurnalistik.


“Risiko yang harus selalu diperiksa dan diverifikasi ulang dari penggunaan AI adalah faktor halusinasi,” katanya.


Susi juga mengingatkan bahwa kualitas keluaran AI sangat bergantung pada instruksi atau prompt yang diberikan pengguna.


“Kalau instruksinya buruk, output yang dihasilkan AI juga bisa buruk dan tidak berguna,” jelasnya.


Menurut Susi, kemampuan menggunakan AI harus diiringi kemampuan berpikir kritis. Proses wawancara, observasi lapangan, pengumpulan data, konfirmasi sumber, cross check, dan verifikasi tetap menjadi bagian utama dalam kerja jurnalistik.


Ia menilai AI memang dapat membantu mempercepat produksi straight news. Namun, untuk liputan mendalam dan investigasi, AI tidak boleh mengambil alih peran utama jurnalis.


“Kalau kita bermain di kualitas, seperti liputan-liputan mendalam, AI harus menjadi alat bantu, bukan pemeran utama,” tegasnya.

Bersaing dengan Media Sosial


Susi juga menyoroti tantangan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi dari media sosial. Setiap orang kini dapat memproduksi dan menyebarkan informasi dengan cepat.


Kondisi tersebut membuat media profesional harus memiliki pembeda. Jurnalis, kata dia, tidak cukup hanya mengejar kecepatan, tetapi harus mampu menyajikan informasi yang akurat, terverifikasi, memiliki konteks, menarik, dan memberikan nilai bagi publik.


“Sekarang kita mengalami persaingan dengan akun media sosial individu. Karena itu, jurnalis harus memperkuat karya yang berkualitas dan menarik,” katanya.


Selain pemanfaatan AI, diskusi juga membahas keamanan digital dan perlindungan data pribadi.


Senior AJI Mataram Biro Bima, Sofyan As’ary, mengingatkan jurnalis agar tidak sembarangan membagikan informasi pribadi di media sosial.


Menurutnya, semakin banyak data pribadi yang diumbar di ruang digital, semakin besar pula potensi data tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Ia mencontohkan informasi seperti nama ibu kandung dan data pribadi lainnya yang sering dianggap sepele, tetapi dalam kondisi tertentu dapat digunakan untuk verifikasi identitas atau mengakses layanan tertentu.


“Semakin banyak kita mengumbar data pribadi di media sosial, potensi orang kemudian menyalahgunakan data kita juga semakin besar,” ungkapnya.


Karena itu, keamanan digital perlu menjadi bagian dari profesionalisme jurnalis. Tidak hanya data pribadi, jurnalis juga perlu menjaga keamanan data liputan, sumber informasi, akun media sosial, serta dokumen yang berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik.


Diskusi tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa perkembangan AI tidak semata-mata harus dipandang sebagai ancaman terhadap profesi jurnalis. Teknologi tersebut dapat menjadi alat untuk mempercepat pekerjaan, membantu riset, dan meningkatkan produktivitas.


Namun, kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kemampuan jurnalis menemukan fakta, melakukan verifikasi, menggali informasi secara mendalam, dan menyajikannya secara bertanggung jawab kepada publik.


Melalui kegiatan tersebut, AJI Mataram Biro Bima mendorong jurnalis agar tidak gagap menghadapi perubahan teknologi, melainkan mampu memanfaatkannya untuk memperkuat profesionalisme dan menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas. (Pel-Red)