Incinews.net
Selasa, 18 Agustus 2026, 22.00 WIB
Last Updated 2026-08-18T14:00:18Z
HeadlineKabupaten BimaKota BimaMedia SosialNTBOpini

Jangan Normalisasikan Konten Jorok, Itu Racun Yang Kita Diamkan


Oleh : Uki Ali Syariati

Founder SIMBORA


Akhir-akhir ini kita kerap disuguhi konten yang jauh dari norma. Mulai dari ucapan pornografi, kata-kata kotor dan jorok, pamer senjata tajam maupun senjata api, hingga konten yang memakai kostum "boti" yang mendegradasi martabat.


Sebenarnya saya tidak ingin membahasnya. Namun tulisan ini adalah sebagai pengingat kita. Karena tindakan-tindakan itu ada di sekitar kita. Di tengah-tengah kita. Di HP kita.


Dalam psikologi sosial ada istilah Desensitisasi dan Spiral of Silence. Semakin sering kita melihat sesuatu, otak kita akan menganggap hal itu biasa saja. Yang tadinya jijik, lama-lama jadi lucu. Yang tadinya tabu, lama-lama jadi konten.


Kita mendiamkannya dengan alasan kan cuma konten. Kan buat hiburan. Biar FYP.  Padahal diam kita adalah lampu hijau. Kita sedang menormalisasi. 


Padahal dampaknya sangat rentan bagi anak. Karena otak mereka belum matang. Paparan konten seksual dan kekerasan sejak dini merusak empati dan meningkatkan agresivitas. 

Sementara bagi para remaja, konten-konten seperti akan membentuk persepsi keliru tentang relasi, kehormatan, dan batasan. Sementara bagi masyarakat luas dapat mngikis norma. 


Yang paling berbahaya adalah kita yang membuat konten itu lucu. Kita share ke grup teman. Kalau pelakunya teman, keluarga, atau kita sendiri, kita diam. Paling cuma komen wkwkwk atau hehehe dan hihihi. Tapi giliran orang lain yang buat, kita mati-matian mencela. Kita paling depan menghujat saat sudah viral.


Ini namanya bias. Kita toleran pada orang dalam tapi kejam pada orang luar. Padahal racunnya sama. Dampaknya sama. Jangan tunggu viral dulu baru kita mengkritik. Jangan tunggu jadi korban dulu baru kita sadar.


Mulai dari kita. Mulai dari sekarang. Karena yang kita normalkan hari ini, akan menjadi budaya untuk besok dan kedepannya.