549 Anak NTB Positif Covid-19 dan 608 Kasus Usia Anak Dibawah Umur Nikah Ditengah Pandemi -->

Iklan 970x250px

549 Anak NTB Positif Covid-19 dan 608 Kasus Usia Anak Dibawah Umur Nikah Ditengah Pandemi

Jumat, 25 September 2020
Foto: Ilustrasi. (ist/O'im)

Mataram, incinews.net: Kasus anak ditengah Pandemi Covid-19 menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB. Melalui  Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Pemerintah mengajak berbagai stakeholder untuk bergerak bersama menghadapi berbagai ancaman dan maraknya jenis kasus anak yang semakin mengkhawatirkan.

Kepala Dinas DP3AP2KB Ir. Husnanidiaty Nurdin, M.M menjelaskan, berbagai kasus yang terjadi pada anak ditengah Pandemi Covid-19, diantaranya banyaknya anak-anak yang terdampak positif Covid-19, kasus perkawinan diusia anak dan kasus kekerasan terhadap anak.

Ketiga kasus ini, memiliki jumlah yang tidak sedikit. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB sebanyak 549 atau 17,4% kasus positif Covid-19 pada anak di Provinsi NTB. Maraknya perkawinan usia anak sebanyak 608 kasus di Prov. NTB berdasarkan data pengajuan Dispensasi Pernikahan yang bersumber dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan data dari aplikasi SIMFONI  sebanyak 141 kasus kekerasan anak sampai dengan bulan September 2020.

“Dampak dari Pandemi sangat besar sekali pada anak, sehingga perlunya diadakan pertemuan untuk diskusi perihal yang terjadi dilapangan dan sama- sama untuk mencarikan upayanya” tutur mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB pada pertemuan evaluasi dampak pandemic Covid-19 pada anak yang berlangsung dikantor DP3AP2KB Prov NTB, Kamis (24/9/2020).

Jumlah kasus perkawinan anak semakin mengkhawatirkan, menurut Ibu Eni, masalah utama yang sering kali terjadi yaitu salahnya pola asuh ditengah keluarga. “adalah pola asuh yang kita harapkan dari orang tua yang masih belum didapatkan. Tidak adanya kehangatan dikeluarga juga menjadi masalah” jelasnya.

Senada dengan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Joko Jumadi melihat kondisi anak bersama dengan orang tua ditengah pandemi semakin senggang, dikarenakan tingkat aktivitas anak terhadap gadget lebih tinggi, sehingga banyak anak – anak yang semakin susah untuk diatur.
“Seharusnya di tengah Pandemi kelekatan anak dan orang tua semakin intens, tetapi dilapangan banyak orang tua yang mengeluh dengan anaknya dikarenakan kebanyakan anak-anak bermain game” tuturnya.

Dr. Rusnawi faisal, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Daerah Provinsi NTB menjelaskan bahwa efek dari pernikahan anak bagi kesehatan begitu banyak, bagi perempuan sebagian besar terkena penyakit kanker rahim dan bagi laki – laki terkena penyakit kanker prostat.

“Sebagaian besar yang penderita penyakit kanker rahim jika ditelusuri ternyata menikah diusia muda, sedangkan bagi laki-laki dipaksa untuk mengeluarkan sperma dan semen diusia muda itu tidak baik” jelasnya. (red)