Masyarakat dan Pemerintah Harus Kompak Tangani Wabah Virus Corona -->

Iklan 970x250px

Masyarakat dan Pemerintah Harus Kompak Tangani Wabah Virus Corona

Minggu, 22 Maret 2020

Maraknya penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh virus Corna atau dalam bahasa medisnya COVID-19 yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 12 Maret 2020, melahirkan begitu banyak kecemasan dan spekulasi dari berbagai pihak.

Walaupun SOP pandemi segera ditindak-lanjuti oleh pemerintah, namun berbagai macam isu dan sebaran berita dengan beragam kemungkinan semakin mencemaskan masyarakat.

Arus transportasi laut dan udara dibatalkan, beberapa universitas mengganti sistem perkuliahan dengan kuliah daring, bahkan Gubernur DKI merilis peraturan untuk menutup sekolah selama 2 minggu (KompasTV, 14 Maret 2020).

Menurut sejarawan medis Howard Markel, M.D., Ph.D., seorang pakar Universitas Michigan yang telah mempelajari efek dari tanggapan yang serupa terhadap epidemi masa lalu, hal ini benar-benar sangat diperlukan.

"An outbreak anywhere can go everywhere. We all need to pitch in to try to prevent cases both within ourselves and in our communities". 

Hal ini dapat diartikan bahwa tindakan pencegahan sesuai dengan SOP pandemi harus dijalankan tanpa perlu menunggu kasus berada pada jumlah tertentu. Karena bisa jadi hal tersebut terlambat untuk dilakukan.

Covid-19 atau yang kita kenal dengan Corona virus sangat mengancam keberlangsungan ekonomi dan aktivitas keseharian kita, Covid-19 angkah kematiannya memang rendah hanya beberapa 3% di indonesia dan Malaysia 2%. 

Tapi effect dari penyebaran virus ini sangat berbahaya sehingga tidak sedikit dari kita yang terganggu secara sikologis, oleh sebab itu perlu ada kesadaran serta perhatian khusus dari masyarakat maupun pemerintah untuk mencegah penularan covid-19 karna ini bukan issue skala local atau nasional ini sudah menjadi issue global dan issue ini bukan tempat kita membangun panggung dengan berbagai kepentingan politik.

Saya merupakan student master yang berada di Negara tetangga yaitu Malaysia dari kejauhan saya memantau tentang issue covid-19 di dalam negri (indonesia) yang di mana semakin hari semakin meninggkat penyebarannya dan sampai saat ini sudah mencapai angkah 450 yang positive dan 38 yang meninggal, 20 sembuh (21 maret 2020), keseriusan pemeritah perluh di tingkatkan untuk menangani covid-19, tapi disisi lain kegalauan melanda indonesia karena sarana dan prasarana secara medisnya kurang mendukung. 

Indonesian bukan Negara maju dengan kecanggihan segalah alat tehnologinya, tapi indonesia merupakan Negara berkembang, satu kata dari saya untuk pemerintah baik di skala local, regional maupun nasional harus membaca pembaangunan jangkah panjang baik dari infrastruktur lebih lebih sumberdaya manusia yang berkemajuan sesuai yang di amanatkan oleh UUD 45 “sedia payung sebelum hujan” pepatah lama mengatakan.

Pemerintah pusat sudah mengeluarkan surat edaran yang berkaitan dengan liburnya segala aktivitas di luar rumah termaksud pendidikan, aktivitas ibadah so on, sebagai bentuk pencegahan dari pemerintah. 

Tapi menurut saya itu tidak cukup perlu ada tindak lanjut, Malaysia merupakan Negara dengan jumlah penduduk 32.6 juta jiwa, pemerintah sangat serius untuk mencegah penularan virus ini yang dimana pada tanggal 16 maret menteri kerajaan Malaysia mengeluarkan pernyataan bahwa semua aktivitas di luar rumah selam 2 minggu akan di berhentikan and we are stay in home, pemerintah indonesia pun mengeluarkan pernyataan yang sama dan bahkan indonesia lockdown segala trasportasi tapi ada beberapa point perbedaan yang saya lihat selama masa cuti 2 pekan yang berkaitan dengan keseriusan pemerintah. 

Sikap kerajaan dan rakyat Malaysia:
1. Pemerintah mengeluarkan himbauan cuti 2 pekan (no activity outside the home)
2. Untuk menindak lanjuti point 1 pemerintah menggerakan seluruh system Negara termasuk polisi dan tentara untuk ikut andil dalam pengawasan masyarakat yang keliaran tanpa memiliki kepentingan di luar rumah
3. Pemerintah menghimbauh kepada pemilik tokoh dan kedai untuk tidak beroperasi selama masa cuti sesuai surat yang di edarkan oleh pemerinta kecuali minimarket yang menjual kebutuhan keseharian masyarakat.
4. Pemerintah memberikan sumbako kepada rakyatnya sebagai bentuk perhatian dan keseriusan pada issiue pandemi.
5. Di tempat-tempat umum tersedianya antiseptil (anti bakteri) untuk di gunakan oleh masyarakat
Dan Kesadaran masyarakat sangat tinggi untuk mengindahkan peraturan yang di keluarkan oleh pemerintah tersebut. 

Bagaimana dengan indonesia sekarang? Covid-19 di anggap remeh temeh oleh masyarak bahkan ironinya pemuda dan mahasiswa sangat sedikit sekali yang memiliki kesadara yang berkaitan dengan issue Covid-19 jangan lihat dari bentuk secara biologis (kecil) nya covid-19 akan tetapi coba kita lihat the effeck dari pada Covid-19 ini apa yang harus kita lakukan untuk sama-sama mencegah terjadinya penyebaran ini, so bagaimana kebutuhan ekonomi masyarakat?, Bagaimana nasib anak anak bangsa yang hari ini Diberhentikan aktivitas pendidikannya? 

Oleh sebab itu, saya mengajak semua elemen yang ada kompak ikut membantu pemerintah dalam polemic yang terjadi sekarang dalam bentuk kesadaran diri untuk kepentingaan orang banyak. Tidak cukup memberikan beban seutuhnya kepada pemerintah. 

Dan untuk pemerintah baik dari tingkat pusat maupun daerah harus peka terhadap issue yang terjadi sekarang pikirkan apa yang harus di pikirkan demi kepentingan umum bukan kepentingan kelompok atau pribadi lebih-lebih keberlanjutan politik jaka panjang.

Key word: Kesadaran, masyarakat, pemerintah dan perketat aturan
Refferensi: Nuraini, N., Khairudin, K., & Apri, M. Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika.Preprint. https://www.permohonan.my/jumlah-penduduk-malaysia-terkini/. Lihan, T., Ismail, N., Mustapha, M. A., & Rahim, S. A. (2006). Kandungan logam berat dalam makanan laut dan kadar pengambilannya oleh penduduk di Tanjung Karang, Selangor. Malaysian Journal of Analytical Sciences, 10(2), 197-204.