Krisis Air Bersih Di Desa Sangiang

Iklan 970x250px

Krisis Air Bersih Di Desa Sangiang

Sunday, November 17, 2019


Bima,Incinews.Net- Krisis air bersih bagi warga Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima hingga kini masih dirasakan, bahkan menjadi masalah mendesak bagi warga Sangiang.
   
Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfa'atkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktifitas sehari-hari termasuk di antaranya adalah SANITASI, ungkap Resnawati. Pada Sabtu (16/11).
      
“Standar air bersih diatur dalam peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia No 32 tahun 2017 tentang standar baku mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan kesehatan air untuk keperluan higience sanitasi, kolam renang, solus peraqua, dan pemandangan umum”, katanya.
        
Lanjut Kelas 3 IPA SMA Negeri Wera ini, untuk konsumsi air minum menurut Departemen kesehatan, syarat air minum adalah tidak berasa,tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat, walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia,terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri(Misalnya Echerichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat di bunuh dengan memasak air hingga 100•C. Banyaj zat berbahaya,terutama Logam,tidak dapat dihilangkan dengan cara lain,yang menjadi masalah adalah apakah air yang diambil dipinggir pantai apakah sehat dikonsumsi secara langsung oleh manusia dengan skala yang terus menerus ?. Dengan syarat  tidak berasa tidak berbau, dan tidak berwarna memang memenuhi syarat. Tetapi,apakah air yang dikonsumsi secara langsung mengadung logam yang berat atau tidak belum diketahui. Secara air yang diambil bukan dati mata air yang pertama melainkan air yang mengalir dari jauh dan melewati celah-celah batu yang berada di sepanjang sungai, jelasnya.
        
Dikatakan Resnawati, padahal Pemerintah Desa Sangiang pada tahun 2018 lalu sudah menguncurkan anggaran sebesar 240 juta untuk mengatasi krisis air bersih yang melanda masyarakat Desa Sangiang.Namun,hingga sa'at ini anggaran sebanyak itu nyatanya belum mampu mengatasi krisis air bersih. “Masyarakatpun meminta agar Pemerintah Desa Sangiang segera bertindak serius menangani krisis air bersih tersebut”, tegasnya.
        
Selama hampir 1 tahun ini masyarakat Desa Sangiang hanya bisa memanfa'atkan air sumur dipinggir pantai seberang Desa. Hampir setiap hari masyarakat Desa Sangiang bergantian mengambil air di sumur tersebut, baik berjalan kaki,maupun menggunakan sampan dan motor. Dalam menaggulangi masalah yang serius sperti ini, pemerintah di upayakan untuk menyelesaikan secepat mungkin masalah tersebut. Untuk mencegah penyakit diare dan cacingan karena mengonsumsi air secara langsung tanpa proses karna akan lebih fatal lagi akibatnya jika diteruskan dengan jangka waktu yang panjang, tutup Resnawati. (inc)