NTB Sebagai Pusat "Fashion" Muslim Dunia

Iklan 970x250px

NTB Sebagai Pusat "Fashion" Muslim Dunia

Sunday, November 17, 2019

NTB sudah lama dikenal sebagai dua pulau yang mempunyai karakteristik  social-budaya yang khas islami, namun demikian Ntb juga dikenal sebagai entitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman (Bhineka Tunggal Ika). Terbukti  di mana hampir  tidak pernah masyarakat mendengar adanya gesekan-gesekan skala besar melibatkan antar kelompok  yang mengorbankan ikatan social masyarakat NTB itu sendiri. Bahkan ketika pualu Lombok digelari pulau seribu Masjid sejak sekian lama ikatan masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak pernah mengalami erosi. Ini tentu saja patut disyukuri oleh semua pihak karena perbedaan yang ada telah menjadi rahmat bagi kebersamaan dalalm merajut tenun kebangsaan.

Alih-alih khas islami pulau Lombok dan Sumbawa dapat menjadi sandungan untuk menjalin kbersamaan dengan entitas lainnya malah menjadi berkah tersendiri. Apalagi baru-baru ini kekhasan masyarakat NTB akan menjadi modal dasar bagi mewujudkan industrialisasi fashion muslim. Hal ini berawal dari adanya ide dari pihak Bank Indonesia (BI) perwakilan NTB, untuk memasarkan kekhasan produk-produk tentun lokal yang khas pakaian muslim. Ide ini pun disambut positif oleh pemerintah daerah Provinsi NTB dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang dippimpin Ibu Hj. Niken Saptarini Widyawati dengan mengadakan pergelaran mode /fashion muslim di lingkungan Islamic Center (IC) pada tanggal 03 Nopember 2019 baru lalu.

Menurut ibu Wakil Gubernur (Wagub)  (Hj. Rohmi Djalilah), pemerintah daerah akan dengan senang hati memfasilitasi para pengerajin (desainer) lokal yang sudah dilatih oleh pihak BI perwakilan NTB. Di NTB ada 10 Kabupaten/Kota yang mempunyai kekayaan dan kebudayaan tenun yang mempunyai corak masing-masing. Hal ini tentu saja dapat menjadi potensi besar bagi menghasilkan fashion, sehingga kedepannya NTB dapat menjadi pusat industry busana muslim pada tingkat nasional maupun dunia. 

Masih menurut ibu Wagub, bahwa pemerintah daerah tidak harus semata-mata menjadi donatur, melainkan juga dapat menjadi fasilitator dan motivator agar para desainer lokal dapat ambil bagian sehingga mereka dapat mengembangkan diri secara mandiri. Oleh karenanya pada pergelaran busana muslim di IC kemarin pemerintah daerah menggandeng desainer pusat dalam rangka memberikan masukan-masukan atau pembelajaran kepada para desainer lokal yang berjumlah 40 orang, di mana sebelumnya pernah diberikan pelatihan oleh BI perwakilan NTB. 

BI menyadari besarnya angka transaksi fashion muslim sehingga pihaknya  ikut aktif mendorong agar NTB dapat menjadi bagian pelaku industry busana muslim tersebut. Dikatakan dalam setahun jumlah transaksi busana muslim mencapai 20 dolar miliar. Tentu saja angka ini tidak kecil sehingga NTB sudah sewajarnya mengambil bagian dari transaksi ini. Demikian ditekankan pihak BI.

Pertanyaanya bagaimana sebenarnya posisi strategis dari keberadaan industry fashion /busana muslim pada era dewasa ini? Pertanyaan inilah yang selanjutnya akan menjadi bahasan dalam tulisan ini. Pertanyaan ini pula sebenarnya yang membuat penulis tertarik/tertantang untuk menulis artikel ini. Harapannya jawaban dari pertanyaan terdahulu dapat menjadi pemahaman masyarakat sehingga secara sadar bersama-sama untuk bangkit dengan produksi/ industry lokal dalam hal ini busana atau pakaian khas muslim.

Homogenisasi Budaya
Globalisasi telah menghasilkan penyeragaman hampir di semua sisi kehidupan masyarakat dunia. Termasuk penyeragaman (homgenisasi kebudayaan) masyarakat telah dikondisikan sedemikian rupa untuk digiring pada satu selera konsumsi. Siapa yang tidak mengenal merek Nike, Cardinal,  Lea, Adi das, Jaguar dan lain sebagainya? Itu baru pada tataran merek fashion atau busana atau pakaian, belum lagi pada merek-merek elektronik, otomotif maupun funrniture-furniture rumah tangga. Semua masyarakat global seolah dikondisikan pada penyeragaman selera konsumsi yaitu mengkonsumsi merek terkenal. 

Beriringan atau belakangan kemudian gejala kehidupan posmoderen pun menyeruak ke permukaan. Terjadi pergeseran paradigm dalam kehidupan masyarakat, di mana yang semula masyarakat terus-menerus diseragamkan dalam berbagai sisi kehidupannya  sebagai konsekuensi dari semangat globalisasi yang cenderung menghegemoni masyarakat untuk hidup dalam keseragaman budaya popular. Kini hal itu mengalami titik balik di mana reputasi dan image menjadi kata kunci dalam menghadapi gelombang kehidupan pasca modern (post modern).

Globalisasi yang sering menyeragamkan kebudayaan global menjadi kebudayaan popular seringkali menindih kebudayaan lokal yang berujung pada hilangnya identitas-identitas (baca: keunikan) lokal. membiarkan hal ini terus-menerus berlangsung dapat menjadi masalah masyarakat lokal sendiri karena berimplikasi pada layunya denyut kebudayaan. Pada gilirannya produksi lokal juga akan mengalami stagnasi. Pada posisi inilah prinsip-prinsip post modern menjadi lebih layak dikedepankan dalam rangka mennetukan arah sejarah dunia yang lebih cemerlang bagi  identitas dan entitas masyarakat lokal. 

Hasilnya kemudian dapat disaksikan bagaimana kecenderungan kebudayaa-kebudayaan lokal bangkit ikut serta memberikan warna bagi perjalanan sejarah dunia lebih lanjut. Apalagi globalisasi yang berhutang pada kemajuan internet telah mampu menjadi jembatan masyarakat diberbagai belahan dunia. Masyarakat terpencil yang berada diwilayah pegunungan pun dapat berpartisipasi dalam rangka berproduksi sebagai konsekeusni dari kemajuan internet itu. Fenomena ini semakin mempercepat akselerasi kehidupan post modern, sehingga akibatnya keseragaman yang diciptakan oleh kekuatan globalisasi sebelumnya berangsur-angsur dapat diimbangi.

Pada perjalanan selanjutnya kehidupan postmoderen nampak lebih beragam warnanya sehingga kehidupan postmoderen ini lebih mengandalkan reputasi dan image dibandingkan propaganda. Manalah mungkin globalisasi yang bersandar pada modernitas dapat merangkul semua sisi kehidupan masyarakat global, sehingga nampak globalisasi lebih besar proporsinya melakukan propaganda daripada membangun reputasi dan image. Berbeda dengan warna kehidupan masyarakat yang bersumber dari potensi kekayaaan kebudayaan lokalnya. Itu bukan propaganda melainkan telah menjadi reputasi dan image.

Reputasi dan image masyarakat NTB yang sudah menjadi takdir sejarah sudah dimaklumi sejak lama sebagai khas warna muslim, sehingga itu menjadi jalan lempang bagi penciptaan brand yang tentunya bersesuaian dengan kebudayaan muslim. Daripada melakukan rebranding kembali yang tentunya tidak mudah mencarikan kesusaiannya dengan budaya –sosial (baca; berpakaian khas masyarakat NTB mayoritas) lebih baik kiranya apa yang sudah menjadi reputasi dan image masyarakat lah yang patut dilanjutkan.

Apalagi NTB baru-baru ini telah mendapatkan label pariwisata sebagai salah satu tujuan wisata halal dengan predikat Best Halal Tourism, Best Destination Honeymoon. Belum lagi  fasilitas BiL dan sirkuit Mandalika yang akan semakin menambah magnet pariwisata sehingga ke depannya pariwisata ini akan bertambah maju dengan angka-angka kunjungan pantastis. Sederet momen terdahulu sayang jika tidak dimanfaatkan untuk  tujuan-tujuan besar lainnya. Pada konteks itulah kemudian NTB harus tampil dengan salah satunya menggarap potensi tenun lokal untuk memulai industrialisasi fashion muslim yang tentunya dicita-citakan di masa depan dapat menjadi pusat fashion muslim dunia. Oleh karenanya ini harus di mulai karena “A journey of  Thousand miles should be started by one single step”.

Oleh: Ahmad Efendi,  Komunitas Balai tulis Literasi NTB