Ratusan Orang Guru Ikuti Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra -->

Iklan 970x250px

Ratusan Orang Guru Ikuti Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra

Jumat, 25 Oktober 2019

Dompu, Incinews.Net - Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Pembukuan Kementerian Pendidikan dan Kepemudaan menggelar kegiatan memperingati bulan bahasa dan sastra. di Gedung Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kabupaten Dompu, tema Sastrawan Masuk Sekolah, Rabu (23/10).

Ketua Panitia Ihsan, S.Pd menjelaskan, Kegiatan akan berlangsung selama dua hari dengan narasumber Dr. Umi Kulsum S.S,.M.Hum (Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB) dan Asma Nadia (Penulis Novel). Dr. Tengku Syarfina, M.Hum (Kepala Bidang Pembelajaran, Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan dan Kepemudaan).

"Hari ini hadir perwakilan 100 orang guru dari jenjang SDN, SMP, SMA dan Madrasah Aliah se Kabupaten Dompu, besok siswa 100 orang dari SDN, SMP, SMA, dan Madrasa Aulia juga akan hadir," kata Ihsan.

Lanjutnya, "Minat baca kita masih rendah lewat kegiatan ini diharapkan siswa memulai menulis sehingga cinta akan literasi tumbuh, menulis dan membaca",ucapnya

Kepala Bidang Pembelajaran, Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan dan Kepemudaan.  Dr. Tengku Syarfina, M.Hum menambahkan, adanya kegiatan ini dapat meningkatan apresiasi sastra bagi guru dan siswa dalam menulis cerpen, dalam pembelajaran.

"Kalau gurunya sudah paham meningkatkan apresiasi sastra nanti akan mengajarkan kepada siswanya, sehingga siswanya akan mahir menulis cerpen dan krosa," bebernya Syarfina pada wartawan.

Sambungya, "Sebagai agenda tahunan Pusat Pembinaan Bahasa, tahun lalu pernah diadakan di Mamuju, tahun ini di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Nias dengan waktu yang sama,"

Syarfina menjelaskan, terkait keberadaan Pusat pengembangan bahasa dan sastra, salah satu tugasnya melestarikan bahasa daerah, diadakan refitalisasi bahasa daerah dan salah satu tugas Kantor Balai Bahasa Daerah.

"Agar bahasa daerah tidak punah perlu pembinaan, lewat kegiatan seni, tarian rakyat, sosialisasi kepada geresi muda dan Dinas Pendidikan agar memasukkan pada matapelajaran muatan lokal untuk dipelajari di sekolah dan acara adat," pungkasnya.

"Trigatra (tiga sudut pandang, red), utamakan bahasa indonesia, lestarikan bahasa daerah kuasai bahasa asing," sambungnya.(Inc)