Wajah Pilkada Kabupaten Bima, Akankah Istanah Pecah Dua ? -->

Iklan 970x250px

Wajah Pilkada Kabupaten Bima, Akankah Istanah Pecah Dua ?

Rabu, 19 Juni 2019

Oleh: DM Pecinta Kopi

Opini-Genderang perang sudah mulai di tabuhkan, kompilasi pasangan untuk mengikuti kontestasi Pilkada Kabupaten Bima 2020 nanti, seperti jamur yang tumbuh subur di musim hujan. Itu pertanda bahwa para peminat dan pengamat politik sudah mulai berakrobat memainkan irama-irama politik dalam syair dan sajak yang berbeda-beda. Gagasan dan narasi politik menjadi bagian terpenting sebagai arus utama didalam komunikasi politik baik secara personifikasi maupun komunikasi publik. Gelagat Pilkada sebagai edigium utama lokomutif Demokrasi ditingkat Daerah sudah barang tentu memberikan pembelajaran tersendiri bagi proses politik yang ada, karena Proses Pilkada tersebut sudah berjalan beberapa periode yang lalu. Ini memberikan warna dan ciri khas tersendiri bagi keberlangsungan demokrasi di Kabupaten Bima tahun 2020 yang akan datang. 

Situasi politik kedepan makin hari kian memanas, banyak putra dan putri terbaik kita yang akan mengambil bagian sebagai salah satu kontestan guna mengabdikan dirinya untuk Dou Labo Dana Mbojo, itu sebagai bukti bahwa keinginan mereka untuk memperbaiki dan membangun kabupaten Bima menjadi lebih baik lagi dimasa-masa yang akan datang. Kontestasi kali ini akan diwarnai oleh beragam profesii dan latar belakang, ada dari kalangan politisi, Pengusaha sukses, Birokrasi dan lain-lain.

Hal yang menarik dipilkada kali ini adalah ketika terjadi wacana pasangan antara politisi muda Bapak Mori Hanafi, SE.,M.Comm dengan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM. Maka akan terjadi bola api yang  menggelinding di taman istana para raja-raja. Pasangan ini membuat hentakan istana menggelegar seperti pengaruh Bom Aton yang menghempaskan Nagasaki dan Hirosima, serta membuat hentakan di masyarakat khalayak bertanya, “akankan istana pecah dua??”. Sosok Bapak Mori Hanafi sudah dikenal luas dikalangan masyarakat Desa terutama dipelosok-pelosok paling dalam, sosok yang satu ini dikenal oleh khayalak sebagai anak muda yang gampang bergaul dengan siapapun, murah senyum, atau bahasa Bima nya “Kambera” dan mudah ditemui. Sebut saja, ketika beliau menjabat sebagai pimpinan DPDR Provinsi NTB, Sosok muda ini selalu terbuka bahkan kantornya dikerumunin banyak tamu dibandingkan dengan yang lain. 

Kebijakan dan keberpihakan terhadap pembangunan masyarakat Kabupaten Bima sangat dirasakan oleh masyarakat bawah, politisi muda tersebut menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi NTB selama 10 Tahun terakhir, Kini Pak Mori Hanafi terpilih kembali sebagai Anggota DPRD Provinsi NTB untuk ketiga kalinya.

Sementara Hj. Ferra Amelia adalah sosok politisi senior, juga pernah menjadi Ketua DPRD Kota Bima sekaligus Ketua DPD II Partai Gokar Kota Bima pada periode yang lalu dengan segudang pengalaman dalam kontekstasi politik. Srikandi yang satu ini pernah mengikuti sejumlah perhelatan Pilkada sebagai bagian dari proses dinamika politik, sehingga menjadikan beliau matang dan dewasa dalam panggung politik di daerah ini.

Sapaan akrabnya adalah Dae Ferra, merupakan keturunan langsung dari trah istana kerajaan Bima. Sosok Dae Ferra sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tubuh istana, sudah barang tentu punya andil besar dalam setiap keputusan didalam istana itu sendiri. Apalagi Dae Ferra Merupakan pribadi tertua atau yang paling tua diantara penghusi istana tersebut selain dari Istri mendiang Almarhum Sultan Abdul Kahir.

Oleh karena itu, sebagai orang yang dituakan punya makom tersendiri dari sekedar keberadaan dirinya. Keikut sertaan beliau dalam memenangkan pertarungan Pilkada-Pilkada sebelumnya, seperti semasa Almarhum sapaan Akrabnya Dae Ferri menjabat Bupati Bima dua periode, Dae Ferra Menjadi Ketua Tim Sukses memenangkat pertarungan tersebut sehingga kakak Kandungnya menjadi Bupati Bima, juga ikut andil dalam memenangkan idik Iparnya Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri yang sekarang masih menjabat sebagai Bupati Bima. itulah fakta politik yang harus kita fahami bersama yang melekat didalam sosok dan pribadi beliau.

Image Istanah Pecah Dua

Kalau saja terjadi pasangan antara Bapak Mori Hanafi, SE.,M.Comm dengan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM maka akan terjadi hal yang luar biasa, katakanlah seperti syair lagu “Gelisah Galau Merana (GEGANA) Politik tingkat akut” bagi Petahana, karena petahana (Bupati) juga adalah bagian dari ruang lingkup istana. Dae Ferra bisa berubah menjadi kata kunci guna merebut hati masa kultural dan para simpatisan istana. Masyarakat kabupaten Bima berbeda dengan masyarakat kota Bima dalam perspektif politik, Masyarakat kabupaten Bima masih menyimpan nilai-nilai etis dalam struktur kerajaan masa lampau, seperti halnya mitologi dan kearifan lokal dalam sudut pandang sederhana masyarakat kultural, hal itu tidak bisa dipisahkan disetiap wacana panggung politik terutama Pilkada Kabupaten Bima.

Oleh karena itu, hadirnya sosok Dae Ferra merupakan pelemahan bagi petana, penggembosan ruang-ruang dan pintu-pintu istanan akan terjadi. Kecurigaan demi kecurigaan akan tumbuh subur disetiap rapat dan konsolidasi, taman-taman istana dan pandopo akan terjadi blok-blok yang mengasikkan dengan mempertontonkan silang sengkarut didalam satu atap, siapa sesungguhnya yang bisa mengambil hati masyarakat?, keluarga Istana manakah yang paling berperang dalam mengambil hati masyarakat?

Pilihan berdemokrasi sebagai bagian dari cara kita untuk memilih pemimpin sudah menjadi nilai-nilai yang universal belakangan ini, memberikan kesempatan bagi siapa saja yang berminat, tidak terkecuali antara adik dengan kakak, antara anak dengan ibu dan lain-lain.

Dalam hitungan bulan, perhelatan Pilkada kabupaten bima akan terjadi, akankah Pasangan Bapak Mori Hanafi, SE.,M.Comm dengan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM bakal berduet?, tergantung kesungguhan dan konsolidasi, peran partai politik menjadi garda terdepan dalam menentukan arah koalisi.  

Penulis adalah Sekjen DPD LIRA Cabang Bima dan aktif menulis diberbagai media.