Atasi Covid-19 di NTB, Kampus Unram Tawarkan Solusi -->

Iklan 970x250px

Atasi Covid-19 di NTB, Kampus Unram Tawarkan Solusi

Selasa, 02 Juni 2020

Foto: Seminar Web (Webinar) Nasional oleh Unit Pelayanan Teknis Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir Universitas Mataram (UPT.BKPK Unram) 

Mataram, incinews.net: Unit Pelayanan Teknis Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir Universitas Mataram (UPT.BKPK Unram) menggelar Seminar Web (Webinar) Nasional dengan mengangkat tema “Tinjauan Medis, Psikologis, Ekonomi dan Hukum Mengenai Dampak Covid-19 Pasca Lebaran di NTB” melalui aplikasi Zoom, Jumat kemarin (29/5/2020) pagi.

Acara yang menghadirkan empat orang narasumber kompeten diantaranya Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka, Sp.A itu, dihadiri oleh 230 orang peserta yang berasal dari dalam dan luar NTB, terdiri dari mahasiswa, dosen, guru, kepala instansi pemerintah, tenaga medis dan para peneliti.

Mewakili Rektor Unram, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Ir. Enny Yuliani, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa tatanan kehidupan dalam semua lini saat ini telah menjadi disruptif akibat pandemi Covid-19.
Dia menuturkan penerapan kebijakan social distancing, physical distancing, PSBB, hingga kebijakan karantina wilayah yang digulirkan pemerintah telah berimplikasi nyata bagi kehidupan sosial, ekonomi bahkan dunia pendidikan.

“Perguruan Tinggi berperan membantu pemerintah khususnya pemerintah daerah untuk menghadapi Covid-19 di NTB dengan memberikan masukan-masukan yang konstruktif,” tuturnya.

Kepala Dinkes NTB saat menyampaikan perkembangan kasus Covid-19 di NTB dan Kota Mataram mengatakan, kasus harian Covid-19 di NTB meningkat dalam tiga minggu terakhir disetiap daerah dengan laju fatality (kematian) berada diangka 1,6 % dan laju kesembuhannya 48,5%”.

Dia menuturkan klaster penularan terbesar adalah klaster Gowa, bahkan muncul klaster baru yakni klaster nakes, klaster unidentifier dan klaster pasar yang masih dalam tahap penelu suran sumber penularannya.

“Klaster unidentifier ini kami tidak tahu sumbernya dari mana dan ini terus membesar yang bisa menjadi bom waktu,” jelasnya.

“Penularan ke generasi kedua juga terjadi lebih cepat daripada primernya (carrier/sumbernya, red.), artinya transmisi lokalnya (penularan lokal, red.) cepat,” sambungya.

Dia juga menyinggung wacana Gubernur NTB yang akan menerapkan swab test untuk setiap kedatangan ke NTB untuk menekan pergerakan sehingga bisa mencegah penularan.

“Oleh karena itu saya menghimbau seluruh masyarakat terus menerapkan protokol standar pencegahan Covid-19, karena para nakes yang memakai APD level III saja bisa tertular apalagi masyarakat biasa,” tandasnya.

Menyoroti psikologis masyarakat pasca lebaran dimasa pandemi, dosen Psikologi Klinis Fakultas Kedokteran Unram Pujiarohman, S.Psi., M.Psi mengatakan bahwa masyarakat saat ini belum konsisten dengan pencegahan di tingkat individu. Hal ini menurutnya terjadi karena masyarakat baru tahu hanya pada dimensi fikiran.

“Masyarakat perlu sadar kebencanaan baik alam ataupun non alam seperti Covid-19 ini dan kesadaran akan kebencanaan ini setidaknya, contohnya berdampak pada dua, yakni dinas kesehatan dan dinas pendidikan” ujarnya.

Menurutnya fungsi preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif pada dinas kesehatan harus dimasifkan sehingga bisa menciptakan kesehatan fisik, mental, spiritual dan sosial. Adapun dinas pendidikan katanya punya peran besar untuk menyiapkan masyarakat sadar kebencanaan, seperti membuat kurikulum atau panduan bahan ajar kebencanaan untuk unit Bimbingan Konseling (BK) di kampus maupun sekolah.

“Apalagi NTB juga termasuk ring of fire sehingga kita harus mempersiapkan diri, dengan sistem yang di sharing-kan sehingga bisa menjadi bahan untuk menghadapi bencana” serunya.

Sementara itu Dr. M. Firmansyah, M.Si yang mengupas dampak ekonomi akibat pandemi mengatakan, kebijakan The New Normal semestinya bukan sekedar upaya berekonomi dengan menghindarkan diri dari Covid-19, tapi juga harus menjadi momentum untuk mewujudkan kemandirian ekonomi.

“The New Normal harus menghidupkan produk-produk lokal untuk membantu mensejahterakan masyarakat setempat, dekatkan pasar dengan masyarakat, dorong sektor UMKM untuk memproduksi barang-barang yang biasanya disuplai dari luar, dan ekosistem ekonomi harus dibangun” sarannya.

Pakar Kriminologi Fakultas Hukum Unram Dr. Ufran T, SH., M.Hum yang mendapat kesempatan terakhir menyampaikan, beberapa bentuk kejahatan yang biasa terjadi dimasa pandemi antara lain kejahatan cyber, kejahatan jalanan, kekerasan domestik, penipuan, kejahatan kebencian dan serangan terror.

Untuk kasus kejahatan di NTB sendiri pada masa pandemi, menurutnya banyak terjadi pada perempuan dan anak-anak, contohnya pada ranah domestik seperti KDRT.

“Akibat dari adanya pembatasan sosial dengan kebijakan stay at home, work from home maka terjadi perubahan interaksi dan membuat kejahatan terjadi di ranah domestik atau rumah tangga” katanya.

Sehingga, sambung ia, tantangan penegak hukum saat ini menurutnya adalah, membentuk sinergi formal (pemerintah) dengan informal (masyarakat) untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman akan literasi kejahatan, "agar masyarakat bisa melaporkan kasus kejahatan domestik jika benar-benar terjadi," ungkapnya. (red)