Di NTB 4 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Meninggal, Salah Satunya WNA

Iklan 970x250px

Di NTB 4 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Meninggal, Salah Satunya WNA

Tuesday, March 31, 2020

Foto: Kepala BPBD NTB, H Ahsanul Khalik. (O'im)

Mataram, incinews.net: Sebanyak Empat pasien dalam pengawasan (PDP) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meninggal dunia. 

Dari empat orang tersebut diantaranya  Satu orang PDP di Kabupaten Bima, satu orang WNA dan dua orang PDP yang meninggal di Kota Mataram.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD NTB, H Ahsanul Khalik, minggu, 29 Maret 2020 di Mataram kemarin. 

Ia mengatakan, dari empat orang yang meninggal dua orang sudah terkonfirmasi meninggal bukan karena virus corona dan dua orang masih menunggu hasil laboratorium. "Sudah diambil swab untuk uji laboratorium dan hasil lab-nya akan diumumkan secara terbuka apabila sudah ke luar dari Litbangkes Kemenkes RI," ujarnya.

Ahsanul Khalik menjelaskan sampai saat ini, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) secara kumulatif di NTB sebanyak 938 orang. Dari jumlah itu yang sudah lepas dari pemantauan sebanyak 230 orang, sehingga masih terdapat 708 orang dalam status ODP.

Data yang sama menyebutkan, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di NTB secara kumulatif tercatat sebanyak 43 orang. Dari jumlah itu, yang sudah selesai pengawasan sebanyak 19 orang, sehingga masih ada 24 kasus berstatus PDP. Sedangkan, 19 orang dinyatakan PDP yang sudah selesai pengawasan, terdiri dari 4 orang yang telah meninggal dunia tersebut.

Sementara, dua orang sudah terkonfirmasi bahwa meninggal bukan karena COVID-19 dan dua orang lagi yakni, asal Kota Mataram masih menunggu hasil laboratorium, serta 15 orang sisanya dalam keadaan sembuh. Sejauh ini di NTB terdapat dua orang yang dinyatakan positif COVID-19.

Menurutnya, yang paling penting saat ini semua pihak mengikuti petunjuk yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, tetap saling mengingatkan dan saling menjaga, dengan cara cuci tangan, jaga jarak (physical distancing), jalankan pola hidup bersih dan sehat, konsumsi vitamin, jauhi keramaian dan jangan termakan berbagai isu dan informasi hoaks.

"Dapatkan informasi dari sumber resmi dan dapat di percaya," katanya.

Sebelumnya, salah seorang pasien IMS (55) warga Karang Madain, Kota Mataram berstatus PDP meninggal setelah mendapat perawatan dan sempat diisolasi di RSUD Provinsi NTB.

Pasien IMS masuk IGD RSUD Provinsi NTB pada Rabu (25/3) lalu. Pasien datang dengan diantar oleh keluarga setelah pulang dari salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Mataram. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus, jantung dan hipertensi.

"Pasien masuk ke RSUD Provinsi sudah dalam kondisi lemah dan ditangani secara intensif oleh tim medis RSUD," ucap Ahsanul Khalik.

Ia menjelaskan, karena saat ini sedang ramai dengan kasus COVID-19 dan tanda awal dari pasien dalam kondisi lemah dan keluhan sesak napas, maka pihak RSUD Provinsi sesuai dengan SOP mengambil langkah melakukan isolasi. Keputusan isolasi itu sendiri dilakukan pada hari Jumat (27/03) pada pukul 13.00 Wita dan terus dilakukan pemantauan serta perawatan kepada pasien.

"Pada hari Sabtu, (28/03) kemarin, kondisi pasien semakin lemah sehingga dokter penanggung jawab stand by dan memantau kondisi pasien secara seksama. Pada pukul 14.00 - 16.00 Wita kondisi pasien semakin melemah dan pada pukul 16.30 Wita pasien dinyatakan meninggal di hadapan keluarga dan tenaga medis," jelas Ahsanul Khalik.

Ahsanul Khalik menegaskan, pasien sesungguhnya tidak memiliki riwayat melakukan perjalanan ke daerah pandemi COVID-19. Meskipun demikian, tim medis tetap melakukan pengambilan swab dan saat ini Pemda masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Litbangkes Kemenkes RI.

"Saya berharap masyarakat tidak berspekulasi, dan tidak mengambil kesimpulan sendiri serta tidak berbagi informasi yang belum kita dapatkan kebenarannya bahwa pasien ini meninggal karena COVID-19, terlebih pasien tidak pernah atau tidak punya riwayat bepergian dan tidak punya riwayat kontak juga dengan penderita COVID- 19," tegas AKA sapaan akrabnya.

Sembari meminta masyarakat untuk tidak cepat menyimpulkan jika ada pasien di rumah sakit yang meninggal dunia dengan gejala mirip COVID-19 sebagai pasien yang positif COVID-19.

Ia mengharapkan agar semua pihak tetap tenang dan bersabar menunggu hasil resmi dari laboratorium Litbangkes Kemenkes RI. (red)