Belajar Kejujuran Dari Sidang UGG Council Lombok NTB -->

Iklan 970x250px

Belajar Kejujuran Dari Sidang UGG Council Lombok NTB

Minggu, 01 September 2019

Mataram, Incinews.net_Begitu banyak pelajaran berharga yang diperoleh dari proses sidang UGG Council Tahun 2019 yang dilaksanakan di Hotel Vila Ombak, Gili Trawangan, Lombok- Nusa Tenggara Barat.

Sidang yang dipimpin Mr. Guy Martini, saat membahas usulan Unesco Global Geopark dari berbagai negara, (Minggu, 1/9-2019) berlangsung sangat fair diwarnai pengakuan jujur dari para peserta.

Tampak beberapa kali anggota UGG Council secara otomatis mengangkat tangan pada saat  pimpinan sidang menyebutkan nama usulan Unesco Global Geopark yang akan dibahas. Secara jujur, setiap anggota UGG Council langsung mengakui bahwa mereka memiliki konflik kepentingan terhadap usulan geopark tersebut.

Contohnya, pada saat pembahasan dokumen usulan Geopark Yangan Tau dari Rusia, salah seorang anggota UGG Council dari Spanyol atas nama Ms Helga Irinan Chulepin Molina langsung mengangkat tangannya segera setelah pimpinan sidang menyebutkan nama usulan geopark yang akan di bahas.

Demikian juga pada saat pembahasan Geopark Toba, tampak Mr. Guy Martini langsung keluar dari ruang sidang dan digantikan oleh anggota UGG yang lain.

“ I have a conflict of Interest “ ucap setiap mereka meninggalkan ruangan.

Betapa sebuah pelajaran berharga dan penting buat kita semua untuk meningkatkan integritas dan kejujuran. Bagaimana mungkin seseorang secara jujur mengakui tentang “isi hatinya”, tentang subyektifitasnya, yang seharusnya hanya Tuhan dan orang itu yang tahu bahwa dia “tidak bisa obyektif” menilai sebuah dokumen usulan.

Hasil diskusi dengan beberapa diantaranya, alasan mereka tidak bisa obyektif adalah karena mereka pernah datang ke tempat yang dinilai, pernah dilayani dengan baik, pernah berinteraksi intensif dengan pihak pengusul dan atau pernah menjadi evaluator atas dokumen yang diusulkan.

Selain itu, setiap orang dengan terbuka menyatakan bahwa mereka setuju atau tidak setuju dengan pendapat orang lain. Tidak ada rasa sungkan walaupun kemudian yang dibantah pendapatnya adalah pimpinan sidang, dan pimpinannya pun tidak merasa keberatan dibantah dan didebat secara terbuka di depan forum.

Sebaliknya beberapa kali juga peserta langsung mengakui bahwa mereka salah dan lemah argumentasinya. Dan pengakuan itu disampaikan secara terbuka di depan forum, di depan semua orang tanpa harus merasa takut kehilangan kehormatan.

Hal ini tentu menjadi contoh yang baik bagi para observer, terutama yang berasal dari Indonesia dimana “rasa sungkan dan malu” menyampaikan pendapat masih menjadi kebiasaan yang berlaku secara umum. (Inc)