Incinews.net
Jumat, 09 Agustus 2019, 09.39 WIB
Last Updated 2019-08-09T01:39:21Z
HeadlineKesehatan

Pilot Project Green Hospital, Semua Sudut RSUP NTB Akan Dihiasi Hidroponik

Foto: Wakil gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat meninjau langsung Green Hospital yang dikembangkan RSUP NTB, beberapa waktu yang lalu.

Mataram, incinews. Net- Saat ini rumah Sakit Umum terbesar milik pemerintah Provinsi NTB  (RSUP-NTB) di Dasan Cermen Cakranegara sedang ditata sebagai pilot project Green Hospital. Maka semua sudut atau lahan kosong yang ada di area rumah sakit tersebut akan dikembangkan sebagai lahan hijau menggunakan pola hidroponik.

Sebagai pilot project, Green Hospital di RSUP NTB diharapkan akan menjadi pusat pembelajaran hidroponik dan menjadi rumah sakit pertama yang menggunakan produk organik hasil sendiri dalam menu pasien rumah sakit.

“Selain pemandangan yang hijau dimana mana, sekaligus juga bisa menjadi terapi bagi pasien yang sedang berobat di rumah sakit ini", ungkap Direktur rumah sakit umum daerah Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri

Untuk menghijaukan area RSUD dengan hidroponik, dr. Lalu Hamzi Fikri bersama jajarannya, mempercayakan pilot projectGreen Hospital  tersebut kepada seorang penggiat tanaman hidroponik  yang sudah cukup di kenal di Kota Mataram, bernama H.Masbuhin.

Selain mengelola lahan seluas 1 (satu) are sebagai Taman Hutan, di beberapa bagian rumah sakit juga akan dihijaukan dengan tanaman konsumsi yang dikembangkan dengan system hidroponik. Salah satunya di kiri kanan boulevard jalan masuk RSUD telah disiapkan tiang tiang penyangga (bergola) tanaman hidroponik. Nantinya, setiap ruang kosong seperti balkon dan sudut ruangan akan dipenuhi oleh tanaman hidroponik seperti melon, labu dan sebagainya.

“Kalau dikembangkan lagi, saya berani menanam padi diatas atap beton rumah sakit yang kosong itu atau dibangunan mana saja yang punya atap beton. Bahkan di daerah paling kering saya sanggup menanam padi”, jelas Masbuhin.

Dalam pengerjaan pilot project tersebut, Masbuhin tidak jarang mengajak para muridnya untuk belajar dan praktek pengembangan tanaman pola hidroponika di lingkungan RSUD Provinsi NTB. Para muridnya itu kebanyakan mahasiswa pertanian beberapa kampus. Lima orang mahasiswi sedang mencampur pupuk cair organic sedangkan lainnya menyiapkan media tanam dalam ember plastic besar atau botol botol plastic yang diisi pasir.

Bagi Masbuhin, pola hidroponik tidak saja bicara tentang kualitas sayur atau buah yang dihasilkan. Tapi juga kuantitas produksi yang lebih baik. Hal ini karena perbandingan menggunakan satu media ember berukuran besar sama dengan sepuluh paralon yang diisi rockwool.

Penempatannya pun cukup diletakkan diatas tanah atau lantai beton dengan pola penyiraman air lebih hemat dan praktis karena media pasir memiliki daya serap yang baik dan tidak menggenang yang membuat akar tanaman sulit bernapas.

Secara kuantitas, Masbuhin mencontohkan green house di lahan seluas dua are yang ditanami 15000 pohon cabe dengan pola hidroponik dengan media tanam pasir dalam ember dapat menghasilkan cabe lebih banyak di lahan satu hektar yang ditanami 12000 pohon secara konvensional.

Selain petani perkotaan (urban farm), petani tradisionalpun dapat memanfaatkan lahan mereka  lebih produktif dengan hidroponik. Kelebihan lain adalah mengurangi konsumsi air hingga tujuh persen sehingga dapat bertanam sepanjang musim kemarau.

HIDROPONIK, SOLUSI BERCOCOK TANAM DI KOTA

Cara bercocok tanam menggunakan metode hidroponik menjadi pilihan untuk mendapatkan buah atau sayuran organic. Setidaknya untuk konsumsi sendiri. Selain tidak memerlukan lahan yang luas, produk yang dihasilkan juga lebih sehat. Karena tidak menggunakan bahan kimia dalam prosesnya.

Media tanam hidroponik pun makin beragam. Tidak harus menggunakan media tanam mahal seperti rockwool dan pipa paralon serta listrik untuk memastikan sirkulasi pasokan air. Media tanam menggunakan pasir laut atau kali dalam media bak atau ember dinilai lebih efisien dan praktis.

H Masbuhin, pegiat hidroponik di Mataram lebih suka menyebut dengan istilah urban farm bagi kalangan milenial perkotaan. Lahan pertanian bisa jadi bukan milik warga kota. Selain penghuni kota bukanlah petani, kondisi padat bangunan membuat lahan kosong sulit ditemukan untuk sekadar bertanam bunga apalagi bertani. Tapi Masbuhin punya angan angan, kota pun bisa menjadi lahan pertanian hidroponik dalam skala besar.

“Saya sedang mengembangkan hidroponik dengan media tanam pasir. Kelebihannya kita bisa menanam buah dan sayur dengan produksi yang lebih banyak di lahan sedikit kalau dibandingkan pakai yang sudah ada seperti rockwool yang mahal. Kita juga bisa mengatur sendiri pasokan dan sirkulasi air tanpa alat listrik karena media pasir lebih mudah pemanfaatannya”, terang Masbuhin (Inc)