Media sosial bebas, anak anak awam jadi korban. Siapa yang salah ? -->

Iklan 970x250px

Media sosial bebas, anak anak awam jadi korban. Siapa yang salah ?

Sabtu, 13 Juli 2019

Oleh : Tata Sapriadin, 
Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Mataram

Opini- Di era abad 21 ini teknologi semakin berkembang. Sektor atau pekerjaan yang dulunya kita jumpai di kerjakan secara manual oleh manusia sekarang sudah di kerjakan dengan teknologi semakin canggihaa dan modern. Akhirnya segala sesuatu yang kita kerjakan lebih mudah dan mengefisienkan waktu. 

Salah satu teknologi yang sering kita temui setiap hari adalah smartphone atau sering kita sebut android. Smartphone ini hampir setia orang memilikinya. Keunggulan yang di miliki smartphone ini selain di gunakan sebagai telpon atau SMS, smartphone juga memiliki keunggulan salah satunya kita bisa mengakses informasi baik dalam negeri maupun informasi dunia sekalipun. 

Manfaat smartphone yang sering kita gunakan setiap hari adalah untuk mengakses Media sosial. Media sosial adalah media online yang bisa dengan mudah kita berpartisipasi, berbagi, berinteraksi dalam berbagai kegiatan apapun dan dengan orang yang berada di manapun. 

Kebebasan menggunakan media sosial di manfaatkan orang untuk mengekspresikan dirinya tanpa ada yang melarang. Semua orang bebas berpendapat dan menyalurkan pendapatnya melalui media sosial dengan sewajarnya. 

Media sosial ini di gunakan oleh hampir semua orang dari mulai orang dewasa, remaja, dan bahkan anak di bawah umur. Untuk sebagian orang media sosia di gunakan untuk kebutuhan tertentu bukan hanya sekedar mengekspresikan diri mereka. 

Tidak hanya hanya masyarakat bagian barat yang eksis di Medsos, tapi masyarakat timur seperti Bima tidak luput akan eksistensi dalam media sosial. Penggunaan medsos di Bima sangat banyak saya pantau bahkan anak SD juga bermain dalam media sosial tersebut.

Akhir ini banyak video video yang di buat sengaja dan tidak sengaja oleh beberapa orang yang di posting di medsos yang menjadi buah bibir masyarakat dan bahkan sampai menjadi bahan Bulian oleh oknum tertentu. Pada dasarnya saya rasa semua itu adalah hal yang sepele, akan tetapi lama kelamaan bahwasanya itu adalah sebuah masalah dan harus di tangani.

Yang pertama adalah video seorang anak SMP yang membuat video serta pendek yang dimana anak tersebut kurang baku dalam pengucapan bahasa Indonesianya salah satunya adalah kata yang sebenarnya "singkong" menjadi kata "kingkong". Video tersebut menjadi viral karena dianggapan penonton anak tersebut lucu dan tidak bisa bahasa Indonesia secara baku. Netizen atau penonton tentu senang menonton dan membagikan video tersebut, tanpa menghiraukan kondisi sosial yang di alami oleh anak SMP dan sekarang menjadi korban ejekan bahkan menjadi Bulian bagi sebagian orang. Dampaknya terasa sekali yang di rasakan oleh anak tersebut mulai dampak psikologis, trauma, takut keluar rumah, rasa percaya diri kurang,  dan bahkan sempat meninggalkan sekolahnya. 

Saya paham betul dengan kondisi anak anak SMP ataupun anak SMA di kota Bima. Mereka sangat senang membuat video dan memposting sesuatu tanpa memikirkan dampaknya untuk mereka sendiri. Begitu pula dengan video selanjutnya baru baru ini video anak SMA yang mengucapkan kalimat yang tidak senonoh dan tidak wajar diucapkan oleh seumurannya. Saya rasa kalimat tersebut kurang enak di dengar, tetapi saya juga pernah berada di posisi dia dan seumurannya dan mendengar kalimat seperti itu oleh teman saya. Seperti tadi dampak psikologis akan menghantui anak tersebut sehingga dalam keseharian tidak seperti biasa karena videonya telah diviralkan. 

Kemudian dari pada itu juga saya jumpai video di media sosial khusus yang di share oleh teman teman saya di Bima yaitu video lucu oleh seorang anak dan bapak yang saling mengomentari dan sedikit berdebat Antara keduanya atau orang Bima bilang "video La Hama atau Klose". Video tersebut sangat viral di masyarakat Bima akibat candaan dan lelucon keduanya yang sangat mengundang tawa penontonnya. Tapi di balik itu semua kita juga harus memahami bahwasanya sesuatu yang lucu tersebut belum tentu baik untuk kita. 

Saya menemukan ada sesuatu yang kurang enak dalam video tersebut. Saya amati setiap kalimat yang di keluarkan oleh anak tersebut kepada ayahnya itu sangat tidak pantas karena mengandung kalimat yang kasar dengan intonasi suara yang tidak sewajarnya di keluarkan oleh seorang anak kecil kepada bapaknya. Saya paham tujuannya untuk menghibur tetapi kita harus pahami siapa penonton video tersebut. Tidak hanya orang dewasa saja yang menonton tetapi anak di bawah umur juga menonton video lucu tersebut. Dengan kalimat yang di ucapkan oleh anak tersebut takutnya nanti di tiru oleh penonton anak anak dan bisa mempengaruhi pikirannya.

Saya pribadi bukan menuduh atau menyalahkan si pembuat video tersebut. Akan tetapi dengan banyaknya anak yang menggunakan smartphone jadinya mereka bisa leluasa menonton dan membagi video lucu tersebut.

Masalah penggunaan medson ini akan terus berlanjut kalau di diamkan terus akan muncul hal baru lagi yang akan merusak kaum muda penerus bangsa Indonesia. Orang tua juga harus bertindak cepat jangan sampai penggunaan smartphone dan medsos oleh anaknya ini di biarkan. Perlunya pengawasan dan pengendalian oleh orang dewasa akan membantu mereka untuk melakukan kegiatan yang lain yang lebih bermakna. 

Kedewasaan kita dalam berpikir dan bermediasosial harusnya ada dalam diri kita. Kita harus pandai dalam media sosial jangan sampai tindakan kecil kita berpengaruh negatif dan jangan sampai merugikan orang lain.


Problem ini bukan hanya di tindak lanjuti oleh orang tua ataupun orang dewasa tetapi pemerintah dan dinas terkait juga harus bertindak terhadap masalah ini untuk kesejahteraan masyarakatnya. Sebagai saran saya sebagai penulis untuk pemerintah atau mewakili dinas sosial melakukan edukasi ke sekolah sekolah tentang penggunaan media sosial yang baik, bisa di ikutkan juga lembanga perlindungan anak atau semacamnya. 

Kemendikbud juga harus mengadakan berbagai lomba lomba untuk anak SD, SMP, maupun SMA, baik itu lomba yang tertulis maupun tidak tertulis yang saya rasa sekarang mulai memudar. Jangan sampai berpikir ini adalah hal kecil sampai kita tidak mau bertindak. Karena segala tindakan kita emuanya memiliki hasil.