Incinews.net
Minggu, 25 Januari 2026, 17.41 WIB
Last Updated 2026-01-25T09:51:17Z

Jejak Panjang Ulama Kharismatik Bima, KH Muhammad Hasan, B.A., Diantar ke Peristirahatan Terakhir

(Foto: TPU Parado, Sumber:Ist)

Incinews.net.Bima – Pagi yang hening menyelimuti Desa Parado Rato, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, saat jenazah ulama kharismatik KH Muhammad Hasan, B.A. diantarkan ke tempat pemakaman umum (TPU) setempat, Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 10.00 WITA.

Langkah terakhir sang ulama dilepas dengan penuh khidmat. Jejak pengabdian yang panjang pun resmi berakhir di usia 105 tahun, usia yang jauh melampaui rata-rata manusia dan hingga kini masih menjadi bahan kesaksian banyak pihak tentang keistimewaan hidupnya.

Almarhum meninggalkan warisan keilmuan, keteladanan, dan spiritualitas yang mendalam bagi masyarakat Bima dan Nusa Tenggara Barat secara umum.

Riwayat Pendidikan dan Keilmuan

Berdasarkan data yang dihimpun Incinews.net, KH Muhammad Hasan, B.A. menempuh pendidikan panjang sejak usia muda, di antaranya:
Sekolah Rakyat (1936–1939), Darul Tarbiyah Raba Bima (1940–1941), Darul Ulum Bima (1942–1944), Madrasah Sanawiah (1945–1946), Lulus Ujian Guru Agama Negeri (1953),
Lulus PGAN 4 Tahun (1966) dan PGAN 6 Tahun (1967), Lulus Ujian Akhir Madrasah Agama Islam Aliyah Negeri (1967), Sarjana Muda Lengkap Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Cabang Bima (1976).

Almarhum menguasai Bahasa Arab, Inggris, dan Jerman, sebagian dipelajari secara autodidak. Keilmuan tersebut kemudian diamalkan sebagai pengampu mata pelajaran di SMAN 1 Bima dan MAN Bima. Ia juga sempat menempuh pendidikan di IAIN (kini UIN) Alauddin, meski harus berhenti karena keterbatasan izin dari Kementerian Agama RI.

Jejak Pengabdian dan Kepemimpinan

Karier pengabdian almarhum dimulai sejak 1946 dan berlangsung lintas generasi. Beberapa jabatan yang pernah diemban antara lain:
Guru Darul Ulum Tangga Bima, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Karumbu, Kepala Darul Ulum Parado, Guru Agama Negeri SD di Parado, Kuta, dan Kanca, Guru dan Kepala Madrasah di berbagai jenjang, Guru MAN 1 Bima (1968–1991), Guru SMAN 1 Bima (1977–1989), Kepala MAS Al Mukhlisshin Parado (2003–sekarang), Anggota Majelis Adat Bima sebagai Jeneli Monta wilayah Bima bagian selatan.

Almarhum mengajar Bahasa Arab sejak 1946, Bahasa Inggris sejak 1965, dan Bahasa Jerman hingga masa pensiun pada 1992.

Pendiri Lembaga Pendidikan dan Rumah Ibadah

Selama hidupnya, KH Muhammad Hasan, B.A. dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam. Ia mendirikan dan memimpin berbagai lembaga, di antaranya:
Madrasah Ibtidaiyah Daha Dompu (1961)
Madrasah Diniyah Suntu Bima (1968)
Yayasan Para Muallim (1989)
Pondok Pesantren Al Mukhlisshin Parado (2000), MTs dan MA Al Mukhlisshin (2002)
Selain itu, sejak 1989 almarhum telah membangun 6 masjid dan 3 musala di berbagai wilayah.

Penghargaan dan Keteladanan

Berbagai penghargaan pernah diterima almarhum, di antaranya:
Piagam Pembina Penataran Kabupaten Bima (1981),
Ujian Dinas Tingkat II Provinsi NTB (1988)
Handayani Award Provinsi NTB (2008),
Penghargaan Taman Siswa Kabupaten Bima (2011).
Almarhum juga menerima apresiasi dari Dinas Pertanian atas penataan pekarangan rumah terbaik tingkat Kabupaten dan Provinsi NTB pada 1963–1964.

Ulama, Guru, dan Tempat Bertanya

KH Muhammad Hasan, B.A. dikenal luas sebagai ulama kharismatik, tempat masyarakat meminta nasihat, doa, dan bimbingan spiritual. Sosoknya bahkan dijuluki Guru, Tabib, dan Misteri Jin, sebagaimana tertuang dalam buku biografi yang ditulis keponakannya, M. Dahlan Abubakar, pada 2012.

Keluarga Hadir Melepas

Sejumlah putra almarhum yang sebelumnya berada di Jakarta turut hadir dalam prosesi pemakaman, di antaranya Prof. Dr. Thib Ahmad Thib Raya, M.A. beserta istri Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia, M.A., Dr. H. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., serta Drs. H. Mahmud Fauzy.

Kepergian KH Muhammad Hasan, B.A. meninggalkan duka mendalam sekaligus jejak pengabdian yang akan terus hidup dalam ingatan umat.