Pak Gubernur NTB Harus Evaluasi Kinerja dan Kurangi Pujian terhadap Kadis Perindustrian -->

Iklan 970x250px

Pak Gubernur NTB Harus Evaluasi Kinerja dan Kurangi Pujian terhadap Kadis Perindustrian

Incinews.net
Rabu, 10 Februari 2021

Oleh :Ketua DPD GMNI NTB 
Bung Al Mukmin Betika

Baru-baru ini beredar video pendek berdurasi 5 menit yang dirilis oleh Perindustrian NTB. Video tersebut berisi komentar Gubernur NTB tentang keberhasilan industrialisasi di NTB selama dua tahun terakhir. Bahkan dengan bangganya Gubernur mengatakan bahwa Dinas Perindustrian NTB menjadi satu-satunya dinas yang mampu menyaingi Dinas Perindustrian di pusat. Lebih jauh, gubernur mengklaim bahwa industrialisasi yang dilakukan oleh Kadis Perindustrian NTB belum pernah dilakukan oleh Pemerintah Pusat sekalipun.

Nilai pikir industrialisasi yg dimaknai oleh Gubernur NTB adalah sebatas menjadikan nilai tambah yang luas bagi masyarakat. Sementara data BPS menunjukan bahwa kontribusi sektor industri antara lain share sektor industri terhadap PDRB kita sangat kecil dan pertumbuhan sektor industri dalam PDRB kita mengalami penurunan alias terjun bebas. Dari dua fakta tersebut, wajar jika muncul pertanyaan, "Dimana gerangan Industrialisasi kita?". Dan wajar pula jika disimpulkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, industrialisasi kita mengalami kegagalan.

Penulis sepakat dengan kritikan yang dibangun terhadap industrialisasi yang digaungkan gubernur NTB. Bahwa industrialisasi dalam pemahaman gubernur NTB terlalu monolog dan penuh simplifikasi, kurang rapi pada detail-detail, kurang apresiasif pada kinerja industrialisasi sebelumnya. 

Gubernur NTB dan kadis perindustrian cenderung suka mengklaim. Salah satu contoh, expo yang menampilkan produk-produk lokal yang katanya merupakan buah dari industrialisasi dibawah Dinas Perindustrian. Menurut pengamatan penulis, industri-industri yang menghasilkan produk-produk tersebut sudah berdiri dengan mandiri dan cara industrialisasinya sendiri. Kemunculan Dinas Perindustrian dibawah saudari Nuryanti hanya mem-framing.

Satu hal yang pasti, yakni kita menemukan kesalahan premis. Bang Zul mengakukan hipotesis bahwa industrialisasi di NTB ini adalah Industrialisasi berskala kecil. Lantas kenapa bukan industrialisasi yang massif dan berskala besar? Salah satu contoh, bengkel-bengkel di NTB yg merakit sepeda listrik. Judul “industrialisasi” itu terlalu besar jika hanya disematkan pada kegiatan bengkel kecil-kecilan. Jika Gubernur berpikir industri kecil-kecilan, maka industri tidak akan menjadi “prime mover” perekonomian. Ketika ia tak menjadi “prime mover”, maka itu bukan industrialisasi. Dan jika judul induatrialisasi dipaksakan, maka dapat disebut, dibawah Dr. Zul, NTB telah salah arah, salah intervensi, dan salah baca judul.