Soal Nama Bandara, Tokoh Lingkar Bandara Ingatkan Elit Politik NTB Jangan Adu Domba Masyarakat -->

Iklan 970x250px

Soal Nama Bandara, Tokoh Lingkar Bandara Ingatkan Elit Politik NTB Jangan Adu Domba Masyarakat

Rabu, 23 Desember 2020
Foto: Dari Kiri Bustomi Taefuri Pembina SUAKA NTB, Lalu Tajir Syahroni dan pengecara muda loteng Abdi.

MEDia insan cita, Mataram: Kami dari masyarakat lingkar bandara, khususnya saya ini eks pemilik tanah bandara, tempat dibangunnya bandara merasa resah melihat perilaku elit politik di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini yang senantiasa membuat gaduh, mengadu domba masyarakat kami di lingkar Bandara. 

Hal itu disampaikan Lalu Tajir Syahroni merupakan salah satu Tokoh Lingkar Bandara Kepada media ini, Rabu (23/12/2020).

Ia menyebutkan, kenapa soal nama bandara yang justru tidak substansi yang dipikirkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

"Kenapa pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak berpikir umtuk kesejahteraan masyarakat sekitar bandara, kenapa harus nama bandara yang dipikirkan, apakah sekedar ini isi kepala pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten," sebut pria yang 2010 lalu pernah jadi Calon Bupati Lombok Tengah.

Jadi, Kata Lalu Tajir, perlu saya sampaikan bahwa nama Bandara Internasional Lombok (BIL) itu merupakan kesepakatan dari proses yang panjang, bagaimana mengusulkan nama bandara, ada yang menyebutkan isa zainuddin, tuan guru bangko, syekh umar, silaq dende, selaparang, pejanggik, lalu serinate, dan lain sebagainya termasuk nama-nama ulama saat itu disebutkan.

Karena terlalu banyak kelompok-kelompok yang berpandangan saat itu sehingga disepakati bahwa namanya adalah Bandara Internasional Lombok.

"Itu sebagai kesepakatan, jalan tengah supaya kita bersepakat atas nama lombok, bahwa nama bandara adalah BIL. Supaya tidak ada fiksi-fiksi, geb-geb, kelompok-kelompok yang dimenangkan atau yang harus didominankan atau harus di prioritaskan,"katanya.

Soal nama bandara itu identik dengan pahlawan atau ulama, mantan Kepala Desa Ketara ini katakan tidak mesti, ada juga pahlawan, banyak juga ulama yang tidak dipakai namanya di bandara.

"Jadi kenapa kita harus ribut, apakah isi kepala kita, isi pikiran kita, isi perut kita, isi hati kita hanya untuk saling mendominasi, saling menghajar, saling mengganggu, saling menimbulkan ricuh, dan korbannya adalah masyarakat kami disini,"terangnya. (Red/O'im)