Soal Nama Bandara, Mantan Kades Ketare: Wagub NTB Menyuap Warga Loteng dengan Program -->

Iklan 970x250px

Soal Nama Bandara, Mantan Kades Ketare: Wagub NTB Menyuap Warga Loteng dengan Program

Jumat, 25 Desember 2020
Foto: Dari Kiri Bustomi Taefuri Pembina SUAKA NTB, Lalu Tajir Syahroni dan pengecara muda loteng Abdi.

MEDia insan cita, Mataram: Polemik nama Bandara masih  dipermasalahkan dan perdebatan dikalangan masyarakat khususnya di Kabupaten Lombok Tengah.

Mantan Kades Ketare di Lombok Tengah menuduh Wakil Gubernur NTB selaku kader Nahdatul Wathan (NW) memaksakan kehendak dengan menyuap melalui sejumlah program.

"Yang lucu adalah pemerintah provinsi NTB melalui wakil gubernurnya adalah kader Nahdatul Wathan itu memaksakan dengan menyuap berupa program dan berupa macam-macam," sebut Lalu Tajir Syahroni, kemarin. (23/12/2020)

Kata ia, Kalau tidak dukung nama BIZAM oleh masyarakat sana, tidak berhak atas program yang dikelola oleh pemerintah provinsi. Apakah itu  bukan NTB?
Lingkar bandara adalah bagian dari NTB.

Jadi, Kata Lalu Tajir yang pada tahun 2010 jadi Calon Bupati Lombok Tengah, Dia tidak akan menggelontorkan program bagi masyarakat lingkar bandara, ini justru sangat lucu.

"Cara berpikir pemerintah provinsi harus dicuci dan harus diperbaiki supaya tidak diskriminatif. Saat ada kepentingan dia harus dibantu baru dia menggelontorkan program, kalau tidak kita dimiskinkan oleh program,"bebernya.

Bagi saya itu adalah suatu lelucon dan perilaku yang sangat vulgar bahkan sikap tidak etis mensikapi fasilitas publik yang ada di NTB.

"Kami orang lombok tengah, khususnya saya, ratusan hektar tanah keluarga kami habis sampai sudah tidak ada tempat kami bercocok tanam karena untuk pembangunan bandara,"ungkapnya.

Sambung ia, Kami tidak memaksakan bahwa pendapat kami yang benar, tapi nama BIL itu adalah sebuah kesepakatan bersama yang merupakan jalan tengah bagi tawaran-tawaran nama yang disodorkan.

"Jadi, bagi siapapun yang coba mengganggu-ganggu artinya dia beritikad tidak baik supaya membuat suasana tidak baik dan beraroma konflik," imbuhnya.

Jadi, Masih Lalu Tajir, saya eks pemilik tanah menyatakan kecewa dengan perilaku pimpinan daerah pemprov dan pimpinan daerah lombok tengah maupun pusat yang menyepelekan substansi masalah kesejahteraan masyarakat, "kemudian ada upaya-upaya yang sangat memalukan yang dilakukan oleh kepala dinas pariwisata yang ingin cari muka di bosnya, dia malam-malam kayak maling memasang plang nama hingga diusir oleh masyarakat sekitar yang masih mempertahankan dan menghormati hasil kesepakatan bersama,"ujarnya.

Seharusnya, menurut ia, bagaimana menciptakan suasana damai di lingkar bandara dengan menghentikan upaya memaksakan Penggantian nama BIL.

"Kedamaian dan kesejahteraan masyarakat lingkar bil jauh lebih penting daripada nama bandara," sebutnya.

Selain itu, yang merupakan salah satu Tokoh Lingkar Bandara ini, mengingatkan juga bagi saudara saya suryadi jaya purnama selaku anggota DPR RI, saya membaca tulisannya tapi hajatannya tidak melihat substansi, cara berpikirnya belum pada soal tentang kesejahteraan masyarakat tetapi soal kelompok.

"Jadi saran saya untuk suryadi jaya purnama anggota DPR RI sudahlah jangan ikut-ikutan berpandangan yang mengarah pada keuntungan kelompok tertentu,"imbaunya.

Dikatakan Lalu Tajir, Jadi NTB ini banyak, kita ini banyak, kita perlu memiliki kesadaran bersama untuk menemukan jalan tengah dan BIL adalah jalan tengah. 

"Jadi kalau mau hebat saudara ku suryadi jaya purnama silahkan hebat disidang DPR RI untuk merebut program-program pusat dan diarahkan ke NTB demi masyarakat di pulau lombok khususnya dan NTB umumnya,"tutupnya. 

Sementara, Wakil Gubernur NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd dikonfirmasi hingga berita ini dinaikan belum ada jawaban. (Red/O'im)