Di Lombok Warganya Minta Nama Bandara Diganti, Bima-Dompu Minta Hujan Turun -->

Iklan 970x250px

Di Lombok Warganya Minta Nama Bandara Diganti, Bima-Dompu Minta Hujan Turun

Senin, 27 Januari 2020

Foto: Aksi Massa Depan Gedung DPRD NTB dan Do'a Minta Hujan Warga Di Bima (ist/Boim)


Mataram, Incinews.net- Ribuan warga lombok mengepung Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB.

kahadiran mereka dalam rangka untuk memperjuangkan perubahan nama Bandara internasional Lombok (BIL) jadi Bandara Internasional Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Pergantian untuk dirubahnya Nama bandara sebagian besar merupakan jamaah dan santri ponpes Nahdlatul Wathan (NW) saat ribuan massa menggelar Aksi unjuk rasa di kantor DPRD NTB, Jum'at (24/1) kemarin.

Terpantau, sejumlah aksi massa memadati sejumlah ruas jalan di jalan  lintas Udayana dan islamic center di kota mataram.

Aksi ribuan massa ini untuk menuntut dewan NTB segera menerbitkan surat rekomendasi perubahan nama bandara sesuai dengan syarat Permenhub No. 1421 Tahun 2018 tentang perubahan nama bandara dari Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

"Kami menuntut agar dewan segera memparipurnakan dan mengagendakan perubahan nama bandara ini, secepatnya dan harus menjadi agenda perioritas oleh dewan," ujar Budi dalam orasinya.

Sementara sejumlah desa di Bima Dompu berdo'a minta hujan. Seperti dilalukukan puluhan masyarakat Desa Ncera Kecamatan Belo menggelar do'a dan dzikir bersama dalam rangka meminta hujan. Kegiatan tersebut di lakukan di embun (Dam) Ncera, Minggu (26/1/2020).

Karaeng Ketua KT menjelaskan hampir setiap Desa melakukan sholat istisqo atau sholat meminta hujan, kekeringan melanda hampir seluruh Desa yang ada di Kabupaten Bima, do'a. "Dzikir bersama ini supaya di berikan rahmat dan keselamatan,"ungkapnya.

Begitu juga dilakukan sejumlah desa di kecamatan Belo Desa Cenggu, Kecematan madapangga kabupaten Bima yang mengelar Shalat Istisqa meminta air hujan. 
Pasalnya, keadaan tanaman para petani di wilayah setempat butuh air. Seperti Desa Campa, Desa Tonda, Desa ncandi dan Desa Rade.

Tidak hanya di Kabupaten Bima, dikota Bima juga melakukan hal yang sama, 
menggelar sholat istisqa jumat (01/11).

Sholat istisqa yang digelar di halaman kantor pemerintah kota diikuti oleh Walikota Bima dan seluruh pegawai pemerintah kota, Ormas, OKP, pelajar SD, SMP, MTS,SMA, SMK Dan MAN se kota Bima ini berlangsung khidmat.

Sementara di Kabupaten Dompu, Berharap segera diturunkan hujan, warga Desa Dorokobo, Kecamatan Kempo, Dompu, menggelar Sholat Istisqa. Selama satu bulan ini, hujan tidak diturun di salah desa yang menjadi sentra komoditi jagung ini.

Tidak hanya umat Islam, warga desa Dorokobo yang juga terdapat umat hindu, juga menggelar ritual yang sama. Tentunya, ritual ini, dilakukan tidak bersama-sama umat muslim. Di desa ini, 25 persen penduduknya beragama Hindu yang merupakan transmigrasi dari Pulau Bali. Warga transmigrasi ini, hampir semuanya berprofesi sebagai petani.

Kepala Desa Dorokobo, Taufik mengatakan, pemilihan sholat istisqa ini dilakukan setelah berbagai cara dilakukan. Akibat tidak terjadi hujan dalam satu bulan terakhir, kondisi tanaman petani, terancam gagal panen.

"Padi petani sudah menguning begitu juga komoditi jagung," katanya, Sabtu (25/1/2020).

Untuk mengairi 350 hektar lahan pertanian itu, dengan mencoba menarik air dari sumur bor yang di bangun tahun 2008 lalu itu. Namun meski diupayakan, air tidak bisa keluar. (Inc)