Tangkal Radikaslisme, PMII Lotim Gelar Dialog Publik -->

Iklan 970x250px

Tangkal Radikaslisme, PMII Lotim Gelar Dialog Publik

Selasa, 25 Agustus 2020
Foto: Saat Kegiatan berlangsung. (ist/O'im)

Lotim, incinews.net: Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Lombok Timur mengadakan Dialog Publik di Aula Sekretariat Cabang PMII Lotim pada Selasa, (25/08/2020), dengan tema, Peran Da'i dan Tokoh Agama Dalam Mencegah Terorisme dan Radikalisme di kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan itu dihadiri oleh sejumlah tokoh lintas unsur, mulai dari unsur pemerintahan, agama, masyarakat, akademisi dan juga pemuda.

Ketua umum PC PMII Lotim, Irwan Safari menyampaikan, kegiatan Dialog Publik tersebut perlu dilakukan guna memberikan pemahaman kepada generasi muda dan mahasiswa yang masih berkecimpung di dunia kampus.

Pasalnya, lanjut Irwan, belakangan ini telah beredar informasi bahwa benih-benih paham Terorisme dan Radikalisme itu sudah menyebar di lingkungan kampus. 

"PMII Lotim sengaja mengangkat tema ini untuk mengajak semua elemen masyarakat yang ada di kabupaten Lombok timur untuk bersama-sama berfikir dan menangkal sedini mungkin paham radikalisme dan terorisme yang berkembang" ucap Irwan dalam sambutannya.

Irwan melanjutkan, demi terciptanya kerukunan beragama dan bermasyarakat di kabupaten Lombok timur, PC PMII Lombok Timur tetap siaga dan akan tetap menyuarakan ajaran Islam yang damai dan moderat. "Dan kegiatan ini adalah salah satu cara yang kita lakukan untuk menjaga keharmonisan itu" ujarnya.

Melalui kegiatan itu, Irwan mengajak semua lapisan masyarakat, terutama mahasiswa pergerakan yang ada di wilayah kabupaten Lombok Timur untuk bersama-sama membangun kehidupan sosial yang baik, rukun dan tetap mengedepankan akhlak dan moral dalam bergaul.

"Sebagai warga negara Indonesia, merupakan tugas kita bersama untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik dan beradab di Bumi Patuh Karya ini" tegasnya.

Adapun sejumlah tokoh yang hadir sebagai narasumber dalam kegiatan itu ialah, pertama Kepala  Kantor Kementerian Agama Lotim, Drs. H. Azharudin bersama Kepala Seksi Haji dan Umrah, H. Makkinudin.

H. Azhar sapaan akrabnya menyampaikan, Kantor Kemenag Lotim sejak awal sudah mengatensi masalah radikalisme dan terorisme itu. Apalagi setelah adanya tenaga penyuluh Non PNS yang ditugaskan sebagai penyuluh keagamaan di tingkat Desa akan memudahkan kerja pemerintah dalam mengantisipasi gerakan semacam itu.

Narasumber kedua ialah Kepala Bidang Pendidikan Politik dan Fasilitasi Organisasi Masyarakat pada Badan Kesatuan Bangsa Politik dalam Negeri (Bakesbangpoldagri), Abdullah, S.E.

Abdullah mengaku bahwa nuansa intoleransi atas nama Suku, Ras dan Agama di Lotim hampir tidak. "Bahkan yang dikatakan radikal pun, di Desa Tirtanadi itu sebenarnya mereka masih mau melakukan hormat bendera" jelasnya.

Selanjutnya ialah, Kuasa Hukum Front Pembela Islam (FPI) NTB, Eko Rahady, S.H. menegaskan bahwa selama ini FPI sering disalahpahami oleh orang lantaran orang itu tidak betul-betul mengenal FPI. 

Karena itulah, Eko mengajak siapapun yang ingin tahu FPI, untuk datang bersilaturahmi dan berdiskusi dengan mereka. "Kami selalu menggunakan prosedur legal ketika melakukan aksi, jadi bukan tanpa aturan" ujarnya.

Narasumber lainnya ialah perwakilan dari unsur akademisi, Suriadi, M.E selaku Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdatul Ulama(Lakpesdam NU) Lombok Timur, meminta supaya masyarakat, terutama mahasiswa tidak gegabah dalam menjustifikasi seseorang itu radikal atau teroris.

 "Kita tidak bisa menilai seseorang itu radikal atau teroris hanya dari organsiasi dan penampilannya saja" tuturnya sembari menambahkan bahwa, yang dinilai radikal itu adalah aspek ideologinya. 

"Dan perlu diketahui, untuk bisa mendapatkan pengetahuan tentang ideologinya itu harus ada kajian,dialog dan diskusi mendalam" ucapnya.

Yang terakhir ialah, Rof'il Khairudin, M.Pd.I yang mewakili tokoh agama dalam kegiatan ilmiah itu menegaskan bahwa, persoalan mengenai radikalisme dan terorisme itu kerapkali dimulai dari kondisi hati yang tidak tertata.

Menurutnya, radikalisme itu biasanya dimulai dari seseorang yang menuduh orang lain radikal. Karena itu, dia mengimbau kepada para peserta yang hadir, untuk selalu waspada dengan prasangkanya sendiri sebelum menilai orang lain. 

"Makanya, Aa. Gym mengatakan bahwa memanjemen Qolbu itu juga merupakan hal yang penting" tutupnya. (red)