Refleksi 379 Tahun Hari Jadi Bima -->

Iklan 970x250px

Refleksi 379 Tahun Hari Jadi Bima

Jumat, 05 Juli 2019


Oleh: DAMRAH
Opini-Hari jadi Bima menjadi momentum bagi masyarakat Bima untuk mengenang sejarah kerajaan dan kesultanan Bima, juga sekaligus mengintrospeksi diri. Apakah kita masih melestarikan Budaya dan Adat Istiadat ke-Bima-an kita (kearifan lokal) dalam kehidupan sehari-hari atau kita sudah terlalu jauh meninggalkannya dan cenderung berkiblat pada budaya-budaya Barat yang notabene disebut modernisasi.

Terutama dikalangan generasi muda yang semakin hedonis dan menganggap melestarikan kearifan lokal sebagai bentuk ketinggalan zaman. Kerap kita dengar dari generasi muda bahwa yang kental dengan kearifan lokal dicap norak, kuno, ketinggalan zaman karenaini sudah zaman modern. 

Tanpa sadar bahwa pernyataan itu merupakan bentuk kemunduran berfikir, mestinya dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan infromasi yang mudah diakses di zaman modern ini menjadi peluang bagi kita untuk terus melestarikan dan mempromosikan kearifan lokal di kancah nasional maupun di kancah internasional.

Pada era 90-an, kita masih menyaksikan pertunjukkan kearifan lokal Bima pada acara pernikahan dan acara khitan seperti Mpa’a Buja Kadanda, Mpa’a Sila, Mpa’a Gantao, Kareku Kandei, Tari Wura Bongi Monca, Dziki Hadra, Olo, Rimpu Colo, Rimpu Mpida, Siki Lanta, Baju Bodo, Boe Katongga, dan lain-lain.Nah sekarang di abad ke-20 sudah hampir tidak ditemukan ada pertunjukan budaya dan kesenian Bima di acara-acara pernikahan dan acara khitan, sudah diganti dengan organ tunggal yang cenderung mengundang kemaksiatan.Paling kita menyaksikannya ketika Upacara HUT Bima, HUT RI atau hari-hari besar nasional.

Untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal pada generasi muda tidak bisa diwujudkan hanya dengan upacara seremonial yang digelar setiap tahun, tetapi haruslah ada inovasi yang dapat diterapkan secara intens dan sustainabel.Misalnya;Pertama, Sekolah-Sekolah tidak cukup dengan belajar teori, tetapi haruslah difasilitasi dengan alat dan perlengkapan Kesenian dan Budaya Bimasehingga peserta didik dapat mengenal dan mempraktekkannyalangsung juga perlu untuk dilombakan agar peserta didik termotivasi. Kedua, setiap Instansi diwajibkan mengenakan pakaian adat sekali dalam seminggu pada hari kerja.

Ketiga, kita kembali pada masa dulu dengan menampilkan lagi budaya dan kesenian Bima lewat acara pernikahan dan acara khitan atau acara apapun yang memungkinan.Keempat, melalui lembaga Sanggar Seni sebagai pusat pelatihan kesenian dan budaya Bima. Kesenian dan budaya tidak bisa hanya dengan belajar teori dan menggelar upacara seremonial, tetapi harus dipraktekkan dengan intens dan sustainabel mulai dari lembaga pendidikan.

Selamat Hari Jadi Bima Ke-379 (5 Juli 1640-5 Juli 2019)

Lestarikan Kearifan Lokal Sebagai Kekayaan Bangsa”