Ditengah Corona, Angka Ekspor NTB Stagnan dan Menurun, Solusi: Perkuat Produksi Hasil Perikanan -->

Iklan 970x250px

Ditengah Corona, Angka Ekspor NTB Stagnan dan Menurun, Solusi: Perkuat Produksi Hasil Perikanan

Rabu, 22 April 2020
Foto: ilustrasi. (ist/O'im)

Investasi perdagangan internasional pada produk lokal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini memiliki kelebihan yang dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran, tetapi juga ditentukan oleh hasil-hasil produksi yang dilakukan oleh pelbagai IKM, UKM, industri olahan dan sektor lainnya. Sementara, kelemahannya distribusi logistik bahan baku, infrastruktur ekspor dan keterbatasan kargo. Mestinya ini bisa dibenahi.

Dengan demikian, pemerintah daerah perlu mendorong perjanjian dan mengatur mekanisme perdagangan komoditi apapun di pasar internasional. Tentu, hal - hal lain yang biasanya harus di perhatikan dalam memasuki pasar ekspor, maka perlu pertimbangkan: komoditas produk, daya saing, mutu, kualitas produk, selera, daya beli konsumen, delivery time, dan analisis kondisi negara tujuan ekspor, termasuk: populasi, agama, tradisi, kondisi sosial politik dan peraturan ekspor impor.

Karena trend ekspor NTB cenderung naik turun bahkan stagnan, maka harus disiapkan pasar yang bisa menerimanya sesuai kebutuhan. Kita bisa amati, nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Juli 2019 sebesar US$ 28.872.069 mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar 3.709,00 persen jika dibandingkan dengan ekspor bulan Juni 2018 yang bernilai US$ 757.996. Karena ada ekspor Barang Tambang/Galian Non Migas sebagai nilai tambah.

Jenis barang ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada bulan Juli 2019 adalah Barang Galian/Tambang Non Migas senilai US$ 27.895.786 (96,62 persen), Ikan dan Udang US$ 354.769 (1,23 persen), Garam, Belerang, Kapur sebesar 253.106 US$ (0,88 persen), Kopi, Teh, dan Rempah-rempah sebesar US$ 105.774 (0,37 persen), serta Produk Hewani sebesar US$ 87.646 (0,30 persen).

Sementara, nilai impor pada bulan Juli 2020 senilai US$ 24.351.587. Ini berarti impor mengalami kenaikan sebesar 244,46 persen dibandingkan impor bulan Juni 2019 sebesar US$ 7.069.410. Sebagian besar Impor berasal dari negara Jepang (43,20 persen), Amerika Serikat (26,29 persen), Singapura (7,60 persen), dan Australia (7,28 persen). Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah Karet dan Barang dari Karet sebesar 43,62 persen, Mesin-mesin Mekanik 27,08 persen serta kendaraan 10,59 persen.

Angka ekspor diatas, dalam beberapa publikasi mengalami perubahan: angka yang berubah, tahun sebelum - sesudahnya tidak sesuai. Mestinya media - media yang publikasi hasil ekspor NTB harus bersumber pada Angka Statistik yang dipublikasi secara resmi pemerintah.

Persoalan yang dihadapi Badan Pusat Statistik Provinsi NTB, data tidak benar-benar diambil dari lapangan, mestinya lakukan survei secara berkala, bukan hanya bersumber pada pendataan primer via tabulasi dinas-dinas terkait. Terkadang data lawas yang ditampilkan. Beberapa kali tracking data yang dipublikasi BPS NTB selalu data lama, tidak update. Terutama masalah ekspor impor hasil kelautan dan perikanan, tidak update. Lagi pula, tabulasi data BPS NTB khusus bidang kelautan dan perikanan tidak ada rinciannya. Disatukan dalam tabulasi data bidang pertanian. Ini harus yang dievaluasi oleh BPS NTB tentang penyajian kanal berita informasi resmi.

Mestinya, BPS merekrut dan menyebarkan surveyor diberbagai desa, wilayah, sektor dan sesuai keilmuannya. Karena selama ini data lapangan dengan data publikasi selalu berbeda. Sehingga tidak menutup peluang kesalahan terjadi dari aspek tanggung jawab, fungsi dan tugas. Mestinya kolaboratif antara BPS dan dinas. Terpenting itu BPS harus memakai data real lapangan dan menyesuaikan data primer yang bersumber dari dinas, walaupun itu masih data mentah.

Evaluasi itu sangat penting, untuk meluruskan dan menghindari kesalahan blunder publikasi oleh berbagai media-media ketika mengkutipnya supaya ada kepastian data yang ditabulasi resmi. Bahkan ada perbedaan mencolok data tercatat total nilai ekspor komoditas dari NTB tahun 2019 hanya Rp2,8 triliun lebih dengan tahun 2020 periode triwulan I Januari - April. Misalnya, mestinya ada kesamaan angka antara Dinas Kelautan - Perikanan dengan Dinas Perindustrian maupun Perdagangan. Sehingga publikasi data ekspor impor benar-benar valid.

Sekarang perbedaan angka ini harus dibereskan. Padahal kalau mau clear, sesuai data BPS ekspor 2020 turun signifikan dibanding nilai ekspor tahun sebelumnya. Sementara, Dinas Perdagangan katakan: tahun 2020 nilai ekspor mengalami kenaikan yang signifikan. Jika mengacu nilai kurs US$1 = Rp16.500, terutama untuk komoditas kerajinan.

Kalau tahun 2019 ekapor mengalami penurunan karena memang permintaan pasar internasional berkurang dari biasanya. Sepanjang Januari hingga Desember 2019, nilai ekspor komoditas dari NTB US$209.889.202,391. Sementara, tahun 2018, nilai ekspor komoditas dari NTB US$315.187.736,640. Nilai ini sesuai yang tercatat SKA (Surat Keterangan Asal) dari NTB.

Mungkin dapat dipahami perbedaannya: BPS mencatat ekspor melalui daerah lain dan SKA dinas-dinas, karena Perindag tidak mencatat ekspor via daerah lain. Perindag hanya mencatat SKA dimasing-masing dinas. 

Kepelikan masalah angka ekspor tersebut, ketika total ekspor NTB tahun 2019 senilai Rp2,8 triliun yang merupakan nilai gabungan ekspor komoditas pertambangan dan non tambang, dipublikasi tahun 2020 ini. Sehingga keterlambatan ini menjadi masalah serius yang harus dievaluasi oleh Badan Pusat Statistik NTB.

Bahkan, perbedaan data ekspor terkait komoditas kerajinan, terdiri dari kerajinan ketak, kerajinan buah kering, kerajinan bambu, kerajinan rotan dan gerabah, nilai ekspornya US$285.796 atau setara dengan Rp3,8 miliar lebih. Ternyata data ini peringkat 2019, bukan tahun 2020.

Begitu pun komoditas hasil perikanan dan kelautan, terdiri dari mutiara, bubuk tulang ikan, frozen fish, rumput laut, udang vannamei, frozen yellow tuna, dan lobster nilai ekspornya US$8.096.214,70 atau setara dengan Rp105,2 miliar lebih, sama juga data tahun 2019, publikasi tahun 2020. Rentang waktu publikasi pun sangat lambat, mestinya periode Juli - September. Tetapi baru terpublikasi pada bulan Januari - April tahun 2020.

Begitu juga data ekspor komoditas hasil pertanian dan perkebunan, terdiri dari minyak kelapa, kopi, manggis sebesar US$64.654,56 atau setara Rp60,5 juta. Kemudian, komoditas pertambangan oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara sebesar US$ 201.441.646,37 atau senilai Rp2,6 triliun lebih.

Koran Suara NTB (Januari 2020) merilis berita ekspor impor, bahwa: rata-rata komoditas hasil kerajinan yang mengalami penurunan. Ekspor non tambang NTB ditolong oleh ekspor ikan, mutiara dan rumput laut. Tahun depan yang berpeluang bagus ekspornya adalah komoditas perkebunan yang potensial, seperti: opi, vanilla, manggis, dan buah naga.

Penurunan nilai ekspor NTB yang signifikan dari komoditas non tambang. Untuk menggairahkan ekspor komoditas non tambang ini, salah satu cara yang paling memungkinkan dilakukan adalah memperbanyak pameran-pameran atau promosi komoditas ke luar negeri. Tahun 2019 sama sekali tidak ada pameran ke luar negeri. Itu yang nampaknya perlu dihidupkan

Menurut Suntono - BPS NTB (2020) bahwa: Nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Januari 2020 sebesar US$ 1.184.534. Angka ini menurun sebesar 96,42 persen jika dibandingkan dengan ekspor Desember 2019 sebesar US$ 33.122.700. Penurunan ekspor ini cukup tinggi. Ini karena tidak ada ekspor barang galian atau tambang non migas. Jenis barang ekspor itu adalah ikan dan udang sebesar US$ 661.548. Kemudian ada garam, belerang, kapur sebesar US$ 337.497. Sedangkan biji-bijian berminyak sebesar US$ 77.157, serta daging dan ikan olahan sebesar US$ 32.270. Ekspor Januari 2020 terbesar ditujukan ke AS sebesar 58,46 persen. Kemudian disusul ke Cina sebesar 32,93 persen.

Sementara nilai impor pada Januari 2020 sebesar US$ 31.585.999. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 28,27 persen dibandingkan dengan impor Desember 2019 sebesar US$ 24.624.502. Di mana sebagian besar Impor berasal dari negara Jepang 56,68 persen dan Turki 12,81 persen. Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah karet dan barang dari karet 56,88 persen dan mesin-mesin pesawat mekanik 26,18 persen.

Peliknya angka data ekspor impor yang disajikan mestinya menjadi bahan evaluasi. Apalagi kalau bersumber dari data yang diolah dari dokumen PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) dan PIB (Pemberitahuan Impor Barang) yang berasal dari Provinsi NTB yang kategori masih angka sementara. Ingat itu angka sementara.

Disisi lain, rentang waktu 2014 - 2020 mayoritas hasil IKM, UKM, dan industri olahan maupun hasil komoditas nelayan serta petani, sangat sulit melayani permintaan ekspor dari sejumlah negara yang relatif tinggi, karena masalah yang sering dihadapi keterbatasan kargo pesawat.

Mestinya, tahun 2020 ekspor meningkat karena komoditas yang dibutuhkan semakin meningkat dan bertambah. Padahal, sudah banyak maskapai penerbangan direct NTB ke Luar Negeri, beberapa negara yang ditujukan itu, seperti: Amerika Serikat, Uni Eropa, China, Spanyol, Singapura, Sri Lanka, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Austria, Malaysia, Perancis, Puerto Riko, Italia, Belanda, Australia, Inggris, Denmark dan Yunani

Namun, seiring Januari 2020 mulai tersebarnya Covid-19 dan melumpuhkan aktivitas ekonomi, tentu berdampak luar biasa terhadap transaksi keuangan, kegiatan dan ekspor impor Provinsi NTB. Laporan realisasi ekspor berdasarkan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) pada Februari 2020 menurun jika dibandingkan dengan bulan Januari 2020. Misalnya nilai ekspor Januari sebesar sebesar US$ 350.928 dengan jumlah volume sebanyak 1.177 Kg. Adapun nilai ekspor berdasarkan penerbitan SKA bulan Februari sebesar US$ 253.668 di luar ekspor konsentrat tembaga dengan volume barang sebanyak 262 Kg.

Barang yang diekspor meliputi barang-barang furniture kayu, kerajinan buah kering, buah-buahan, batu apung, rumput laut, carton virgin coconut oil hingga mutiara. Negara tujuan ekspor meliputi Perancis, Amerika, Malaysia, China, Korea, dan Australia. Barang yang diekspor keluar dari Bandara Internasional Lombok, Bandara Ngurah Rai Bali, dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Data Center Trading International (2020), bahwa: sebesar 33,20 porsen komoditas kelautan dan perikanan, dinilai cukup membantu pertumbuhan ekonomi NTB kedepan. Walaupun pandemi Covid-19 terus menyerang imun tubuh masyarakat. Tentu kebijakan pemerintah kedepan: perkuat infrastruktur pelabuhan dan penangkapan disektor kelautan - perikanan sehingga ekspor memiliki peran besar dalam menumbuhkan ekonomi NTB. Hal lain, tak kalah penting yakni: komunikasi dengan pemerintah pusat: kementerian dan lembaga sehingga ekspor bisa bergerak cepat ditengah Covid-19.

Data CTI tahun 2020 itu menjadi cermin ekspor impor NTB, ternyata tidak bisa berharap pada hasil tambang untuk mensimultan angka ekspor. Karena hasil tambang sangat terpuruk saat ini. Maka, sala satu faktor yang paling mungkin dilakukan evaluasi, peningkatan dan refocusing yakni sektor kelautan, perikanan, pertanian dan industri manufaktur. Tentu, metodenya percepatan akselerasi dan memperkuat pengenjotan sektor pendukung yang merupakan alternatif masalah ekonomi NTB sehingga masa depan lebih baik.

Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute (TSI), Menulis dari Zona Merah Covid-19 Desa Labuhan Bontong Kecamatan Tarano, Sumbawa - NTB