ICS Unram Bedah Buku "Muslimah Reformis" dalam Seminar Nasional -->

Iklan 970x250px

ICS Unram Bedah Buku "Muslimah Reformis" dalam Seminar Nasional

Sabtu, 07 Maret 2020

Foto: Prof. Musdah Selaku Pengarang Buku saat Memamarkan materinya. (ist/O'im)


Mataram, incinews.net: Universitas Mataram (ICS Unram) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Peran Perempuan dalam Membangun Keharmonisan Sosial dalam Konteks Kebinekaan” dirangkai dengan Bedah Buku Muslimah Reformis  di Gedung Dome Unram, Selasa kemarin.

Direktur ICS Unram saat menyampaikan sambutan mengatakan bahwa ICS Unram merupakan pusat studi yang baru di Unram dan berdiri sejak juli 2019 lalu. Namun, ICS Unram telah melakulan beberapa kegiatan seperti seminar-seminar dan bedah buku.
“Saya  berharap ICS dapat memberikan kontribusi yang besar bagi Unram” ungkap Saipul.

Senada dengan Saipul, Kaprodi Sosiologi Rosiadi Sayuti mengatakan “ICS melalui kegiatan ini telah menunjukkan eksistensinya dan saya berharap ICS juga dapat memberikan warna di Unram ini” katanya.

Rosiadi juga mengajak untuk membuka pemikiran dan menggali lebih jauh pemikiran Prof. Musdah yang terkenal kontroversi.

Ketua Umum ICRP yang juga dosen UIN Jakarta tersebut menjelaskan bahwa ICRP merupakan organisasi lintas iman atau lintas agama yang dibentuk pada masa orde baru dengan diprakarsai oleh Presdiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Tujuan dari ICRP adalah untuk memastikan agama sepenuhnya untuk perdamaian. Mengadvokasi pemerintah agar mengapresiasi Demokrasi dan mengadvokasi masyarakat untuk menghargai perbedaan” jelasnya Prof. Musdah.

Dalam bukunya setebal 800 halaman yang memuat 17 Bab tersebut, Dosen UIN Jakarta itu membahas berbagai masalah seputar perempuan seperti masalah pendidikan, perkawinan, keluarga, peran politik perempuan hingga perempuan sebagai agen ekonomi.

“Isi inti dari buku ini adalah menghapus semua bentuk kekerasan, diskriminasi, dominasi kelompok atau agama tertentu , serta membuat kesetaraan dan kesamaan hak bagi kaum perempuan” bebernya.

Selain itu dia juga mengajak mahasiswa untuk mengasah diri sehingga bisa berfikir kritis, memiliki empati dan keterampilan yang mumpuni.

“Kalian yang muda-muda yang masih menjadi mahasiswa, malulah berpendapat tanpa argumentasi. Budayakan membaca untuk mengasah cara berfikir kritis kalian. Jadi baca dulu sebelum berpendapat” tandasnya. 

Perempuan sebagai aktor atau alat?
Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis adalah jendela semata untuk melihat berbagai isu krusial di masyarakat. Mengapa menggunakan istilah Muslimah Reformis? Muslimah Reformis adalah sosok perempuan Islam yang menghayati dan mengamalkan secara kaffah esensi tauhid, inti ajaran Islam.
Penghayatan dan pengamalan tauhid yang holistik menjadikan seseorang teguh menampilkan akhlak karimah, berwawasan luas dan mandiri, selalu aktif-dinamis, berpikir kritis dan rasional, bersikap toleran dan penuh empati, baik terhadap sesama, maupun makhluk lain di alam semesta. Mereka adalah para perempuan yang berjihad menegakkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan yang menjadi esensi ajaran Islam sekaligus inti nilai-nilai luhur Pancasila serta pilar utama demokrasi yang mengedepankan nilai-nilai kebhinnekaan dan perdamaian.

Jumlah perempuan Islam di Indonesia sekitar setengah dari total penduduk Indonesia atau sekitar 130 juta jiwa atau setara dengan jumlah total penduduk 5 negara di ASEAN. Jika para perempuan ini berdaya dan mengerti dengan baik esensi ajaran agama mereka, serta menghayati sepenuhnya konsep NKRI dan ideologi negara, sungguh mereka merupakan aset bangsa yang sangat potensial dalam menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI. Sebaliknya, bila mereka rentan, akan sangat mudah menjadi kendaraan, arus utama penyebaran ideologi radikalisme Islam, menjadi alat penyebaran upaya-upaya merongrong NKRI.

Kami berkolaborasi dengan berbagai lembaga non-pemerintah dan pihak akademis, bertekad untuk melawan upaya-upaya radikalisasi tersebut dengan terus berdialog dan melakukan pendidikan kembali atas nilai-nilai luhur kebangsaan yang sudah hampir dua 2 abad mengayomi dan mempersatukan kebhinekaan bangsa ini. Tentunya, upaya-upaya ini tidak mampu kami lakuka sendiran, perlu berjejaring dengan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian dan konsen serupa.

Kegiatan ini terselenggara, Berkat bekerja sama dengan Indonesian Conference on Relegion and Peace (ICRP), pusat studi yang di gawangi oleh dosen-dosen Program Studi Sosiologi Unram ini menghadirkan lima narasumber sekaligus, antara lain Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA (ketua umum ICRP dan penulis buku Muslimah Reformis), Rosiadi Husaini Sayuti, M.Si. Ph.D (Kaprodi Sosiologi Unram), Dr. Atun Mardatun, Ph.D (Dosen Pasca UIN Mataram dan Gender Expert), Dr. Ruth Stella Petrunella Thei (Direktur Pusat Studi Gender dan Anak Unram) dan Dr. Saipul Hamdi (Direktur ICS Unram)
(red)